Politik

Cawapres Jokowi tidak harus dari militer

Bandarlampung  – Pengamat politik dari FISIP Universitas Lampung Dr Ari Damastuti MA berpendapat PDI Perjuangan harus lebih bijak dalam mencari calon wakil presiden untuk Joko Widodo, dan tidak lagi terfokus pada dikotomi sipil dan militer.
“Saya rasa masyarakat sekarang bukan melihat sosok tersebut apakah dari militer atau nonmiliter, namun lebih kepada ketokohan dan kemampuannya,” kata Ketua Program Studi Magister Ilmu Pemerintahan FISIP Unila itu, di Bandarlampung, Jumat.
Menurut dia, jejak karir kemiliteran seseorang saat ini tidak lagi menjadi sesuatu yang istimewa di mata masyarakat, sehingga tidak akan menambah suara pemilih secara siginifikan.
“Percuma kalau dia berasal dari militer tapi masyarakat tidak kenal. Jadi memang faktor ketokohan dan kemampuan sebaiknya tetap menjadi pertimbangan utama,” kata dia lagi.
Akademisi yang juga Dewan Pakar Kaukus Perempuan Politik Lampung tersebut menambahkan, hasil survei saat ini menunjukkan tidak terlihat satu pun sosok dari militer yang menonjol sehingga cukup populer untuk disandingkan dengan Gubernur DKI Jakarta Jokowi tersebut sebagai wakil presiden.
“Paling mereka populernya hanya di kalangan wartawan, jadi tidak terlalu berpengaruh kepada masyarakat luas,” kata dia pula.
Sebaliknya, dia menambahkan, hal itu merupakan fenomena yang bagus, karena dapat semakin meningkatkan partisipasi dan kepercayaan masyarakat terhadap politikus sipil.
Ari melanjutkan, beberapa calon presiden lain yang menjadi lawan politik Jokowi memiliki latar belakang militer, sehingga pemilihan presiden nanti menjadi persaingan yang sehat dan dewasa.
“Pemilu kali ini sudah berada pada right track karena yang terjadi adalah perang ideologi dan ketokohan, artinya track record dan prestasi betul-betul menjadi pertimbangan pemilih,” kata dia lagi. (Ant/IP)

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close