Internasional

Cendekiawan Muslim Arab Saudi Dihadapkan pada Hukuman Mati

Ilustrasi oleh Medcom

Riyadh: Jaksa penuntut umum di Arab Saudi sedang mengejar hukuman mati terhadap ulama terkemuka, Salman al-Awdah. Perburuan itu dilaporkan media lokal, aktivis, dan anggota keluarga korban.
 
Awdah, yang dideskripsikan oleh para ahli PBB sebagai seorang 'reformis', dipenjara setahun lalu. Tak lama setelah Putra Mahkota Mohammed bin Salman melancarkan tindakan keras terhadap perbedaan pendapat dan menerapkan blokade darat, laut, dan udara di negara tetangga Teluk, Qatar.
 
Awdah, yang memiliki 14 juta pengikut di Twitter, memposting tweet pada 9 September, berbunyi: "Semoga Tuhan menyelaraskan hati mereka demi kebaikan rakyat" — seruan nyata untuk rekonsiliasi antarnegara Teluk."
 
Dilansir dari Al Jazeera, Rabu 5 September 2018, harian lokal Okaz melaporkan bahwa tuntutan pihak yang mewakili pemerintah Saudi telah menebarkan 37 dakwaan terhadap Awdah dan menyerukan hukuman mati.
 
Menurut kelompok HAM ALQST yang bermarkas di London dan aktivis lainnya, beberapa tuduhan termasuk hasutan menentang penguasa dan menyebarkan pertikaian.
 
Putra Awdah, Abdullah, menulis di Twitter bahwa tuduhan atas ayahnya termasuk cuitan kritis dan pembentukan organisasi yang bekerja untuk membela kehormatan Nabi Muhammad.
 
Juru kampanye Amnesty International di Arab Saudi, Dana Ahmed, menyebut laporan itu sebagai "tren yang mengganggu di Kerajaan yang mengirimkan pesan mengerikan bahwa perbedaan pendapat dan ekspresi damai dapat diancam dengan hukuman mati".
 
Keluarga Al-Saud yang berkuasa sejak lama menganggap sejumlah kelompok Islamis sebagai ancaman internal terbesar bagi pemerintahannya.
 
Pada 1990-an, gerakan Sahwa (Kebangkitan) yang diilhami Ikhwanul Muslimin menuntut reformasi politik yang menjadi tantangan bagi keluarga penguasa.
 
Awdah, pemimpin Sahwa, dipenjara dari 1994-99 karena mengocok perubahan politik, tindakan yang memberinya pujian dari pemimpin Al-Qaeda kelahiran Saudi, Osama bin Laden.
 
Pada 2011, Awdah menyerukan pemilihan umum dan pemisahan kekuasaan, yang dianggap provokasi berbahaya di kerajaan.
 
Arab Saudi, monarki absolut di mana protes publik dan partai politik dilarang, telah memperlihatkan penindasan besar-besaran terhadap perbedaan pendapat. Puluhan pemimpin agama, intelektual, dan aktivis hak-hak perempuan ditangkap pada tahun lalu.
 
Di antara mereka yang ditangkap termasuk ulama terkemuka Awad al-Qarni, Farhan al-Malki, Mostafa Hassan, dan Safar al-Hawali.
 
Al-Hawali, 68, ditahan setelah menerbitkan buku setebal 3.000 halaman yang menyerang bin Salman dan keluarga yang berkuasa atas hubungan mereka dengan Israel. Ia menyebutnya sebagai "pengkhianatan".
 
Bulan lalu, pihak berwenang merekomendasikan hukuman mati bagi lima aktivis hak asasi manusia dari provinsi sebelah timur kerajaan, termasuk Israa al-Ghomgham, perempuan pertama yang mungkin menghadapi vonis mati untuk pekerjaan terkait hak asasi manusia.

Tags

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close