Cerdas Bermedia di Pilkada 2020

  • Whatsapp

Saluran, channel atau media berperan penting dalam efektivitas menyampaikan pesan untuk mencapai tujuan berorganisasi. Tidak mengherankan manakala banyak pihak memberikan perhatian khusus terhadap media. Pada Pilkada Serentak 2020 yang digelar di tengah pandemi Covid-19, pemanfaatan dan aktualisasi media tidak semudah di saat normal. Karenanya diperlukan jurus tertentu agar media tetap berperan sebagai instrumen pendidikan dan pencerdasan masyarakat dalam berbagai aktivitas.

Media merupakan satu dari lima model komunikasi Lasswell. Kelima elemen tersebut sebagai berikut: who, merujuk pada komunikator atau sumber yang mengirimkan pesan;  says what, merujuk pada isi pesan; in which channel, merujuk pada media atau saluran yang digunakan untuk mengirimkan pesan. Dua lainnya adalah  to  whom, merujuk pada penerima pesan dan with what effects, merujuk pada efek media yang ditimbulkan.

Bacaan Lainnya

Seiring dengan kemajuan teknologi komunikasi dan informatika, berdampak kepada perkembangan media. Jika di masa lalu konsumen media lebih banyak mengandalkan media mainstream, seperti: surat kabar, televisi dan radio. Kini mulai bergeser ke media non mainstream yang berbasis internet/digital/media daring, seperti: media on line dan media sosial (Medsos).

Perkembangan internet ini dipengaruhi oleh pertumbuhan pengguna smartphone yang sangat tinggi, yakni lebih tinggi 125% dibandingkan periode 2013.  Saat ini, 79% dari pengguna internet mengakses internet melalui smartphone. Hal tersebut menyebabkan semua generasi telah mengadopsi internet dan penetrasi internet terus bertumbuh di semua kelompok usia.

Penetrasi tertinggi ditemukan pada Generasi Milenial (tahun kelahiran 1980-1999) dan Generasi Z (tahun kelahiran di atas 2000) dengan penetrasi masing-masing 58% dan 50%. Sementara Generasi X (kelahiran 1960-1980) di angka 33% dan Generasi Baby Boomers (kelahiran 1946-1964) di angka 9%.

Konsumen Indonesia kini menghabiskan waktu rata-rata 5 jam setiap harinya untuk mengkonsumsi konten, baik melalui media konvensional maupun internet. Studi Nielsen pada 2018 menunjukkan bahwa meskipun durasi menonton TV masih tertinggi, yaitu rata-rata 4 jam 53 menit setiap harinya, durasi mengakses Internet menjadi tertinggi kedua yaitu rata-rata 3 jam 14 menit per harinya; disusul oleh mendengarkan Radio (2 jam 11 menit), membaca Koran (31 menit) dan membaca Majalah (24 menit).

Kelebihan dan Kekurangan

Masing-masing media mempunyai kelebihan dan kekurangan. Diantara kelebihan media cetak seperti koran atau surat kabar, tulisannya dapat dibaca secara langsung, jelas dan bisa berulang-ulang atau diulang karena media cetak bisa disimpan. Kekurangannya media cetak, berita atau informasinya tidak bisa cepat. Untuk membaca koran Kompas atau Republika misalnya, pembaca harus menunggu beberapa jam atau bahkan bisa satu hari.

Televisi mempunyai kelebihan pada sisi gambar dan suaranya yang dapat ditonton atau didengar secara langsung dan sekaligus. Televisi juga mempunyai kecepatan dan aktualitas  berita atau informasi, bahkan banyak televisi melakukan siarang langsung (live). Kelebihan lain: tayangannya 24 jam non stop, dan jenis program siarannya beragam.  Selain itu, yang membuat banyak orang setia duduk berjam-jeam di televisi, karena dapat gonta-ganti salurannya sesuai dengan yang diinginkan.

Kekurangannya televisi tidak praktis karena tidak bisa dibawa kemana-mana. Meskipun kini banyak smartphone memiliki fasilitas siaran televisi. Tetapi orang agak malas menonton televisi jika tidak berada di rumah atau di dalam ruang khusus. Kekurangan lain televisi adalah hanya menyediakan komunikasi satu arah. Selain itu, visual televisi banyak tergantung pada jaringan. Kelemahan lain, berita atau informasi yang sudah disiarkan tidak bisa segera diulang sebagaimana yang diinginkan. Kecuali jika ada siaran ulang (record).

Kelebihan radio dapat didengarkan dari jarak jauh, dengan cara yang diinginkan pendengarnya: bisa sambil berdiri, duduk atau bahkan dengan tidur-tiduran. Hal ini karena ukuran dan berat radio beragam, bahkan banyak yang ukuran kecil. Harga radio juga tidak mahal. Bahkan cukup dengan membeli smartphone yang ada fasilitas radio, bisa dilakukan.  Kekurangan radio hanya bisa mendengar suara dan siarannya rentan dengan gangguan jaringan dan sinyal.

Sedangkan kelebihan media baru atau non mainstream seperti: media on line atau Medsos, berita dan informasinya cepat, murah dan jangkauannya luas. Selain itu, Medsos juga bisa digunakan sebagai sebagai sarana komunikasi baik langsung maupun tertulis secara interaktif. Bahkan belakangan ini, Medsos seperti instagram dan youtube telah menjadi lahan bisnis yang menggiuarkan. Banyak orang kaya mendadak karena sukses menjadi selebram, influencer  atau youtuber.

Medsos Sumber Hoaks

Kelemahan lain dari media daring,  on line, terutama Medsos, beritanya banyak yang belum terverifikasi kebenarannya. Bahkan kini media baru tersebut dituding menjadi sumber berita dan informasi palsu (fake) atau hoaks. Hal ini berdasarkan hasil survei Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) (2017). Dari hasil survei itu, diketahui Medsos menjadi sumber utama peredaran hoaks. Proses survei Mastel dilakukan secara online dan melibatkan 1,116 responden.

Sebanyak 91,8 persen responden mengatakan berita mengenai Sosial-Politik, baik terkait Pemilihan Kepala Daerah atau pemerintah, adalah jenis hoax yang paling sering ditemui, dengan persentase di media sosial sebanyak 92,40 persen.  Selain itu, 62,8 persen responden mengaku sering menerima hoax dari aplikasi pesan singkat seperti Line, WhatsApp atau Telegram.

Saluran penyebaran hoaks lainnya adalah situs web 34,9 persen, televisi 8,7 persen, media cetak 5 persen, email 3,1 persen dan radio 1,2 persen. Sebanyak 96 persen responden juga berpendapat hoax dapat menghambat pembangunan. Menurut Ketua Umum Mastel, Kristiono,  hoaks sengaja dibuat untuk memengaruhi opini publik dan kian marak lantaran faktor stimulasi seperti Sosial Politik dan SARA. Hoaks ini juga muncul karena biasanya masyarakat menyukai sesuatu yang heboh.

Kecendrungan ini bukan hanya di Indonesia, melainkan juga di dunia. Laporan “2019 CIGI-Ipsos Global Survey on Internet and Security Trust” menyebut dua dari tiga orang atau 67% masyarakat dunia menyetujui bahwa penyebaran berita bohong (hoaks) terbesar terdapat di Facebook. Sebanyak 65% responden menyebut penyebaran hoaks terbanyak kedua ditemukan di media sosial secara umum. Adapun 60% responden menyebut hoaks ditemukan di situs-situs internet.

Survei CIGI melibatkan 25.229 pengguna internet dari 25 negara dan diselenggarakan pada 21 Desember 2018-4 Januari 2019. Responden dari Nigeria dan Tunisia paling banyak menemukan hoaks di platform Facebook, yakni 91% responden. Di Kenya, sebanyak 87% responden mengatakan pernah menemukan hoaks di Facebook. Sementara Jepang merupakan negara yang paling sedikit melaporkan adanya hoaks di Facebook, yakni 14%. Pasalnya, 56% responden di Jepang mengaku tidak menggunakan Facebook.

Trend di Pilkada 2020

Berbagai jenis media, baik mainstream maupun non maintream akan digunakan di Pilkada untuk berbagai kebutuhan dan kepentingan. Hanya saja diyakini, trendnya akan banyak memanfaatkan media daring. Selain pertimbangan dari sisi kecepatan dan pembiayaan, media daring  dipilih sesuai dengan protokol kesehatan Covid-19. Yang salah satunya seruan agar masyarakat menjaga jarak secara pisik.

Bagi kandidat yang bertarung di Pilkada dan kebetulan bermodal besar, pemanfaatan media daring berbarengan dengan pendayagunaan buzzer (pendengung), influencer dan endorsmen. Untuk dapat menggunakan buzzer dan influencer tidak gratis,  melainkan harus merogoh dana tidak sedikit untuk membayar/menyewa  teknologi aplikasi yang dibutuhkan, pengelola dan operator.

Untuk menghadapi ledakan penggunaan media daring di Pilkada Serentak 2020, KPU telah menyiapkan Peraturan KPU (PKPU) Nomor 6 Tahun 2020 tentang Pilkada dalam Kondisi Bencana Nonalam Covid-19. Dalam PKPU tersebut antara lain diatur, dari tujuh metode kampanye yang boleh dilakukan di Pilkada 2020 salah satunya adalah metode daring. Bahkan PKPU memberikan tenggat waktu cukup lama penggunaan media daring dalam kampanye, yakni: selama 71 hari atau sepanjang masa kampanye.

Dari sisi waktu, lebih lama dibandingkan dengan masa kampanye melalui media cetak maupun media elektronik. Konkritnya, dari 71 hari masa kampanye media daring dimulai pada 26 September 2020 dan berakhir 5 Desember 2020. Sedangkan kampanye media cetak dan elektronik baru dimulai pada 5 November dan berakhir 5 Desember atau 31 hari. Konsekwensinya, akan terjadi perang media darling di kalangan kontestan di Pilkada dengan segala dampak positif dan negatifnya. Salah satu ekses negatifnya adalah maraknya informasi palsu dan hoaks.

Literasi Media

Penggunan media daring di Pilkada 2020 tidak bisa dihindari.  Karenanya yang bisa dilakukan semua pemangku kepentingan Pilkada harus siap. Siap disini bukan hanya dari sisi pengaturan dan pemanfaatan media virtual, melainkan juga dari sisi penggunaan media daring secara cerdas, profesional, beretika, berkeadaban dan bertanggungjawab sosial tinggi.

Pada saat yang sama, penyelenggara Pilkada khususnya Bawaslu provinsi, kabupaten atau kota yang menggelar Pilkada, mampu dan sanggup melakukan pengawasan dan pencegahan dari kemungkinan penyalahgunaan media daring dalam kampanye. Jika terbukti ada yang melanggar misalnya menyebarkan ujaran kebencian atau hoaks, harus dikenakan tindakan dan sanksi tegas untuk menimbulkan efek jera bagi pelaku dan lainnya.

Sementara tugas KPU, lebih banyak difokuskan kepada literasi media atau cerdas media. Kegiatan tersebut dapat dilakukan bersamaan dengan sosialisasi dan pendidikan pemilih. Sementara pihak-pihak lain, seperti partai politik, pemerintah daerah, perguruan tinggi, civil society, organisasi kemasyarakatan dan kemahasiswaan  dan lain sebagainya, tidak boleh tinggal diam. Melainkan harus aktif melakukan literasi dengan menyasar pada kelompok-kelompok strategis yang banyak menggunakan media daring atau Medsos. []

* Husin Yazid adalah Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indomatrik

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *