Cerita Pilu Korban Ricuh India: Rumah Dibakar, Ibu Berusia 85 Tahun Tak Kuasa Diselamatkan

  • Whatsapp
Akbari, nenek berusia 85 tahun, salah satu korban ricuh India yang meninggal setelah rumahnya diserang kelompok diduga umat Hindu, di Desa Gamri, India. Foto:dok/thescroll.in

INDOPOLITIKA.COM – Rasa getir serta sesal teramat dalam masih dirasakan Mohammed Saeed Salmani, warga terdampak kericuhan yang terjadi di India. Bukan harta benda yang tidak bisa diselamatkan yang dia sesali.

Penyesalan terbesar Salmani adalah tidak bisa menyelamatkan ibunya, yang berusia 85 tahun, saat sekelompok masa diduga dari umat Hindu secara tiba-tiba mendatangi desa mereka, Desa Gamri, dan memporakporandakan lingkungan tempat tinggal Salmani dan warga lainnya.

Bacaan Lainnya

Berderai airmata, Salmani menceritakan secara detail runutan kejadian yang merenggut nyawa ibunya tersebut kepada media, the scroll.in. Sekadar informasi, Desa Gamri, adalah sebuah desa yang terletak di Aspur Tehsil, distrik Dungarpur, Rajasthan, India.

Saat itu, sekitar tengah hari pada tanggal 25 Februari, ketika Mohammed Saeed Salmani keluar rumah membeli susu untuk keluarganya, ia menerima telepon dari putranya yang lebih muda. Massa bersenjata sekitar 100 orang nampak mulai memasuki jalur menuju Gamri. Sekira sekitar 1,5 km dari Khajuri Khas di Delhi.

Mereka membakar toko-toko dan rumah-rumah. Rumah empat lantai milik Salmani sekeluarga juga dibakar. Ketika Salmani hendak berangkat menuju rumahnya, ia ditahan tetangganya. “Mereka mengatakan terlalu berbahaya, saya bisa dibunuh, dan saya harus menunggu saja karena apa yang terjadi sudah terjadi,” kata pria berusia 48 tahun itu.

Sementara sebagian besar keluarganya selamat dari pembakaran itu, ibunda Salmani yang bernama Akbari, berusia berusia 85 tahun, justru meregang nyawa dalam kebakaran di lantai tiga rumah mereka. Bangunan itu sendiri terbakar, termasuk bengkel menjahit keluarga di dua lantai pertama. Salmani mengklaim bahwa massa juga menjarah usahanya dan membawa kabur uang sebesar 8 lakh Rupee. Selain itu, semua perhiasan keluarga yang disimpan di gedung juga dibawa kelompok beringas ini. “Aku tidak punya apa-apa lagi, aku nol,” katanya kepada Scroll.in.

Menunggu situasi mereda, Salmani akan memakamkan ibunya di desa mereka di distrik Meerut, dan juga berencana untuk mengajukan laporan informasi pertama terhadap para pelaku pembakaran yang tidak diketahui.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *