INDOPOLITIKAChina mengeksekusi mati 11 anggota geng klan Ming yang terkenal kejam, yang menjalankan pusat-pusat penipuan di Myanmar.

Sebelas tahanan geng klan Ming dieksekusi mati pada Kamis (29/1/2026) di kota Wenzhou, provinsi Zhejiang, Tiongkok timur, setelah hukuman mereka disetujui oleh Mahkamah Agung Rakyat.

“Kerabat para tahanan diizinkan mengunjungi mereka sebelum eksekusi,” bunyi pernyataan pengadilan dikutip dari Xinhua.

Tiga puluh sembilan anggota geng klan Ming, salah satu dari empat keluarga penipu terkenal di Tiongkok, divonis bersalah pada September 2025 atas tuduhan pembunuhan, penahanan ilegal, penipuan, dan pengoperasian tempat perjudian.

Sebelas terdakwa, termasuk dua pemimpin kelompok, dijatuhi hukuman mati. Lima lainnya menerima hukuman mati tetapi diberi penangguhan selama dua tahun, dan sebelas lainnya dijatuhi hukuman penjara seumur hidup.

Terdakwa yang tersisa menerima hukuman penjara mulai dari 5 hingga 24 tahun. Beberapa juga didenda, aset mereka disita, dan dideportasi.

Pengadilan menyatakan bahwa hukuman dijatuhkan berdasarkan sifat kejahatan, keadaan, dan tingkat bahaya yang ditimbulkan oleh masing-masing terdakwa terhadap masyarakat.

Beroperasi di Myanmar

Geng klan Ming pernah menguasai kota terpencil Laukkaing di Myanmar, yang terletak dekat perbatasan Tiongkok.

Di bawah kendali mereka, Laukkaing berubah menjadi pusat yang glamor, padat penduduk dengan kasino dan distrik lampu merah.

Organisasi kriminal ini telah memanfaatkan pengaruhnya untuk membangun kekuatan bersenjata dan melakukan serangkaian kejahatan sejak tahun 2015.

Kelompok ini mendirikan pusat-pusat penipuan, berkolaborasi dengan geng lain untuk menerima pendanaan dan dukungan senjata. Aktivitas utama geng ini meliputi penipuan melalui telepon, operasi kasino, perdagangan narkoba, dan prostitusi.

Kekaisaran penipuan keluarga Ming runtuh pada tahun 2023 ketika pihak berwenang Myanmar melancarkan penindakan dan menyerahkan anggota geng tersebut ke China.

Berakhirnya ‘Empat Keluarga Penipu Besar’ di Tiongkok

Menurut pengadilan, geng tersebut secara ilegal memperoleh keuntungan lebih dari 10 miliar yuan (US$1,4 miliar) dari operasi penipuan dan perjudian antara tahun 2015 dan 2023.

Aktivitas kriminal mereka mengakibatkan kematian 14 warga negara Tiongkok dan cedera pada banyak lainnya.

Dalam beberapa tahun terakhir, Tiongkok telah mengintensifkan kampanyenya melawan penipuan daring dan mengirimkan kelompok kerja ke negara-negara seperti Myanmar, Thailand, dan Kamboja untuk bekerja sama dalam penegakan hukum.

Kementerian Keamanan Publik Tiongkok mengumumkan pada Juli 2025 bahwa mereka telah menyelesaikan 1,74 juta kasus penipuan telepon sejak tahun 2021.

Operasi terkoordinasi telah membongkar lebih dari 2.000 pusat penipuan di luar negeri dan menangkap lebih dari 80.000 tersangka. (Red)

Cek berita dan artikel menarik lainnya di Google News Indopolitika.com