Pemerintahan

Content Creator dan Platform Media Sosial Diajak Berantas Hoaks dan Ujaran Kebencian

JAKARTA –  Maraknya berita palsu dan ujaran kebencian, baik melalui media mainstream maupun media sosial menjadi concern bersama, karena implikasinya begitu luas. “Tak hanya berefek di pemerintahan tetapi juga di kehidupan bermasyarakat,” kata Deputi V Kepala Staf Kepresidenan Jaleswari Pramodhawardani.

Pernyataan itu disampaikan Jaleswari usai menerima perwakilan content creator dan platform di Kantor Staf Presiden, Selasa, 24 April 2018. Hadir dalam pertemuan ini Chief Evangelist Path Yudha ‘Domex’ Mandey dan Chief Marketing Officer Infia Indonesia Danny Syah Aryaputra yang bersepakat menyatakan kepedulian mereka memerangi maraknya ujaran kebencian dan berita hoaks.

Tujuan dari diundangnya pelaku dari platform sosial ini untuk mengajak bekerjasama dengan strategi masing-masing untuk memerangi berita palsu dan ujaran kebencian.

Concern kami terletak pada pengaruh besar dari berita hoaks untuk Indonesia. Dengan mengundang pemain-pemain platform medsos, kami berharap dapat mengajak bekerjasama membangun Indonesia. Saya rasa perlu membangun kolaborasi antara media sosial dan pemerintah untuk menanggapi hal itu,” tegas Jaleswari.

Sebagai generasi pengguna gadget aktif, Yudha ‘Domex’ Mandey merasakan kekhawatiran yang sama mengenai maraknya beita hoax dan ujaran kebencian.

“Sempat panasnya masa Pilkada dan Pilpres di media sosial membuat kami mengambil ketegasan dalam konten Path,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, melalui fitur report oleh user, manajemen Path dapat mengetahui akun-akun yang mengeluarkan konten mengkhawatirkan, untuk kemudian konten itu diatur ‘hide’ serta dimungkinkan untuk di-suspend.

Diubahnya bentuk Path yang awalnya ditujukan untuk circle-friends menjadi untuk umum juga diantisipasi dengan memfilter banyak kata kuci yang berhubungan dengan SARA dan hal-hal yang dapat memicu kebencian sehingga tidak dapat di-repost dan disebarluaskan.

Pada sisi yang sama Danny Syah Putera selaku CMO Infia Indonesia juga mengakui keresahannya terhadap ujaran kebencian dan informasi hoaks, terlebih sebagai content creator, Danny merasa perlu lebih waspada dalam meracik konten untuk menghindari perpecahan dalam kelompok.

Tags

Artikel Terkait

Close
Close