“Cubit” Airin Karena Kualitas Udara Buruk, Warga Gelar Aksi Teatrikal

  • Whatsapp
Sejumlah warga Peduli Lingkungan Kota, saat menggelar aksi teatrikal di Bundaran Pamulang, Kota Tangsel.

INDOPOLITIKA- Protes udara buruk di sejumlah wilayah Kota Tangerang Selatan menggelar aksi teatrikal di sekitar bundaran Pamulang, Kamis (5/9). Dalam aksinya, para pemuda yang tergabung dalam aliansi Masyarakat Peduli lingkungan Kota itu membawa berbagai properti pendukung.

Saat melakukan aksi teatrikal, mereka nampak mencoba menghirup bersih dari dalam galon air melalui selang. Galon bertuliskan “udara bersih” itu dianalogikan sebagai tabung yang kerap dijumpai di dunia medis. Seolah mereka sedang sakit akibat kualitas udara di kota termuda di Provinsi Banten itu begitu buruk.  Melengkapi aksinya, mereka juga mengenakan masker serta memayungi diri. Sontak saja, aksi para pemuda itu menjadi pusat perhatian para pengendara di sekitar lokasi.

Baca Juga:

koordinatorMasyarakat Peduli lingkungan Kota Fitra Afthama mengatakan, berdasarkan data Air Quality Index (AQI), Kota Tangsel dikatakan memiliki udara paling buruk se dunia. “Menurut pantauan di airvisual.com kota Tangerang Selatan menurnjukan Air Quality Index (AQI) yang sangat tidak sehat yaitu 248 US AQI. Padahal titik lokasi yang ditunjukan pada website tersebut adalah titik yang paling hijau di Tangerang Selatan. Yaitu daerah Bumi Serpong Damai (BSD),” papar Fitra dalam keterangan resminya.

Fitra mengatakan, penyebab kualitas udara yang buruk itu karena minimnya ruang terbuka hijau. “Permasalahan udara yang tidak sehat di Tangsel juga karena ketidakpedulian pemerintahan setempat yang minim membuka ruang terbuka hijau. Di Tangsel hanya memiliki dua taman kota dan kedua-keduanya berada di daerah pengembang semua,” jelasnya.

Masyarakat peduli lingkungan itu meminta agar Pemkot Tangsel membangun ruang terbuka hijau di setiap kecamatan. Mereka juga mengimbau warga Tangsel untuk menaman pohon di lingkunganya serta menggunakan masker saat berpergian. “Seharusnya penyebaran ruang terbuka hijau ini merata di setiap kecamatan. Jangan seolah-seolah membangun ruang terbuka hijau, padahal yang membangun adalah pengembang,” tutupnya.[asa]

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *