Cuek Bendum PBNU Mardani Maming Tempuh Praperadilan, KPK: Itu Haknya

Bendum PBNU, Mardani H Maming (kemeja biru) memberikan keterangan pers/net

INDOPOLITIKA.COM – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mempersilakan dan tak mau ambil pusing dengan langkah Bendahara Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Mardani H Maming yang akan melakukan praperadilan terkait penetapan dirinya sebagai tersangka.

Bagi KPK, praperadilan merupakan hak setiap orang dan langkah hukum itu bisa ditempuh Maming jika merasa dikriminalisasi.

“Kalau memang waktunya yang bersangkutan tidak terima ada lembaganya, praperadilan dan lain-lain silakan,” kata Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK Karyoto di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta Selatan, kemarin.

“Kita tidak terlalu dipusingkan dengan hal-hal seperti itu,” tambahnya.

Praperadilan, kata Karyoto, saluran yang tepat jika ada pihak yang tidak terima dengan status hukumnya. Upaya hukum tersebut juga diakui secara undang-undang.

“Karena hak-hak seorang saksi, seorang tersangka akan dilindungi dengan undang-undang,” ucap Karyoto.

Karyoto menegaskan KPK telah bertindak sesuai fakta hukum yang berlaku. Penetapan tersangka tidak didasarkan pada upaya kriminalisasi.

“Apapun ceritanya, kalau ada kekuatan tertentu meng-endorse suatu perkara kalau tidak cukup alat buktinya, dan tidak ada faktanya, mana mungkin kita berani,” tegas Karyoto.

Mardani H Maming menyebut ada mafia hukum yang sedang mengincarnya. Dia menduga dikriminalisasi usai ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK.

Maming terjerat kasus dugaan suap izin pertambangan. Direktorat Jenderal (Dirjen) Imigrasi menyebut ada dua orang yang dicegah KPK dalam kasus ini, yakni Mardani Maming dan adiknya, Rois Sunandar.

Maming dicegah karena berstatus tersangka. Namun, pihak Imigrasi tidak memerinci status Rois dalam pencegahan itu. Rois pernah diperiksa KPK pada Kamis, 9 Juni 2022, saat kasus ini di tahap penyelidikan. [Red]


Ikuti berita menarik Indopolitika.com di Google News

Berita Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.