Curhat Sedih Pramugari Garuda: Dilarang Terbang Hingga Dipindah Tanpa Alasan Jelas

  • Whatsapp

INDOPOLITIKA.COM – Sikap semena-mena eks Dirut Garuda Aris Askhara ternyata bukan isapan jempol belaka. Serasa mendapat angin segar paska Ari dipecat, mereka pun menumpahkan unek-uneknya di Kementerian BUMN, dengan harapan perlakuan kurang manusiawi tersebut tidak mereka rasakan lagi.

Sejumlah perlakuan yang konon tidak manusiawi ini sebut saja digrounded alias dilarang terbang, kerja sampai 18 jam untuk penerbangan luar negeri pergi pulang (PP), atau pramugari bisa saja dimutasi dengan alasan tidak jelas.

Bacaan Lainnya

Salah seorang pramugari yang telah mengabdi di Garuda lebih dari 30 tahun ini, Hersanti misalkan. Ia mengaku, harus ikut penerbangan pergi pulang (PP) luar negeri selama 18 jam tanpa istarahat. Contoh, penerbangan PP Jakarta-Melbourne-Jakarta. Penerbangan itu ini ditempuh selama 18 jam tanpa istirahat.

“Saya yang mengalami penerbangan, PP baru kemarin saya dari Melbourne PP, rasanya badan melayang. Ini baru aja mendarat kemarin dan saya menyempatkan ke mari untuk memberitahu badan saya rasanya nggak enak banget,” katanya.

Pramugari lainnya, Putri Adelia Pamela yang bertugas di Garuda Indonesia sejak tahun 2011 juga menceritakan hal sama. Wanita yang biasa disapa Adel ini mengaku sebelumnya ditempatkan di Jakarta, namun tanpa alasan yang jelas ia dipindah ke Makassar.

“Sebelumnya saya sebagai awak kabin yang memiliki home base saya dipindahkan dan dimutasikan ke Makassar tanpa menjalani prosedur atau peraturan jelas kepada saya,” jelasnya.

Dia berharap hal itu tak terulang lagi. Dia pun berharap agar jajaran petinggi Garuda Indonesia dirombak. “Menurut saya perlu menghapus orang-orang dibawah direksi yang memiliki strategi yang sama dengan bapak Ari Askhara, ide yang sama dengan direksi sebelumnya, dan praktik buruk serta ilegal yang sama juga,” ungkapnya.

Pada kesempatan sama, Ketua Umum Ikatan Awak Kabin Garuda Indonesia (Ikagi) Zaenal Muttagin mengatakan, pemindahan atau mutasi seharusnya dilakukan secara jelas. Namun, yang terjadi selama ini dilakukan secara sepihak.

Menurut Zaenal, para awak kabin sendiri selama ini tidak berani melakukan perlawanan. Lantaran, ada dua kemungkinan jika melakukan perlawanan yakni di-grounded (tidak ikut terbang) atau diberikan surat peringatan (SP).[asa]

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 Komentar