Dampak Covid-19 terhadap Pelaku Ekonomi di Objek Wisata

  • Whatsapp

INDOPOLITIKA.COM -Sektor ekonomi dan pariwisata sangat terdampak oleh merebaknya pandemi Covid-19 sejak Maret 2020 lalu. Kebijakan pemerintah yang mewajibkan seluruh tempat wisata tutup berimbas pada banyaknya usaha di bidang pariwisata gulung tikar.

Tidak hanya berdampak terhadap para pengusaha besar pemilik pariwisata, seperti taman bermain, hotel, dan restoran. Tapi juga para pedagang kecil yang berjualan di sekitar tempat wisata. Mulai dari yang menjual aneka makanan hingga oleh-oleh khas daerah setempat.
Selama ini para pedagang menggantungkan hidupnya pada wisatawan yang berdatangan ke lokasi wisata. Namun sejak pandemi jumlah wisatawan terus mengalami penurunan, terutama karena adanya kebijakan pembatasan aktivitas sosial. Seperti PSBB di tahun 2020 dan PPKM di tahun 2021.

Berita Lainnya

Kondisi Pariwisata Selama Pandemi
Menurut United Nations World Tourism Organization, kunjungan pariwisata di seluruh dunia selama tahun 2020 hanya turun drastis hingga 44 persen. Di Indonesia sendiri jumlah wisatawan asing hanya sekitar 25% dari total wisatawan tahun 2019 sebelumnya.
Hal itu tentu tak mengherankan, berbagai negara di dunia memberlakukan lockdown wilayah sejak merebaknya pandemi Covid-19 pertama kali. Sementara di Indonesia menutup semua akses keluar-masuk Indonesia dan melakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) mulai April 2020.

Akibat dari minimnya kunjungan wisatawan lokal maupun mancanegara, pendapatan Indonesia dari sektor pariwisata juga ikut menurun. Dari yang sebelumnya mencapai Rp280 triliun pada tahun 2019, menurun drastis menjadi Rp20,7 miliar saja di tahun 2020.

Yang paling memprihatinkan adalah, nasib para pekerja dan pedagang kecil di sekitar tempat wisata. Banyak karyawan yang bekerja di bisnis pariwisata, seperti taman rekreasi atau perhotelan terpaksa dirumahkan sementara dan bahkan diberhentikan selamanya.
Menurut BPS, sekitar 409 ribu pekerja di sektor pariwisata kehilangan pekerjaan dan 939 ribu orang lainnya dirumahkan selama tahun 2020. Sedangkan para pelaku UMKM yang berjualan di sekitar lokasi wisata terpaksa menutup tokonya hingga nyaris tak mendapatkan penghasilan sepeser pun.
Dampak Covid-19 terhadap Pedagang di Objek Wisata
Dari berbagai data statistik dan kondisi faktual yang ada di lapangan, dampak Covid-19 terhadap sektor pariwisata hampir semuanya negatif. Pengaruh positifnya mungkin membiasakan para pengusaha di sektor pariwisata untuk lebih kreatif menggaet pelanggan secara online.
Akan tetapi hal itu kurang sebanding dengan banyaknya dampak buruk yang dirasakan. Khususnya bagi para pedagang kecil yang tidak mempunyai pekerjaan lain sebagai sumber penghasilan. Berikut beberapa dampak negatif pandemi Covid-19 terhadap ekonomi pedagang di sekitar tempat wisata.
Terpaksa Menutup Usaha
Sejak pemberlakuan PSBB massal di banyak daerah, pemerintah juga melarang dibukanya berbagai destinasi wisata. Masyarakat pun senantiasa dihimbau untuk tetap berada di rumah dan tidak pergi berlibur. Otomatis para pedagang di tempat wisata terpaksa menutup toko atau lapak jualannya.
Mereka merasa percuma ketika membuka toko, tapi tidak ada pengunjung yang berlibur. Karena mereka pun tidak akan mendapat pembeli. Kalau pun nekat berjualan, pedagang bukan hanya merugi, tapi juga beresiko terkena razia Satgas Covid-19 yang bertugas menertibkan warga.
Pontang Panting Memulai Berjualan Online
Para pedagang pun mencoba berbagai cara untuk tetap bisa menghasilkan uang, salah satunya dengan berjualan online. Kebanyakan dari mereka yang masih awam dengan teknologi digital, terntu harus berusaha keras untuk mempelajari cara berjualan online.
Ketika sudah memulai berjualan online pun, hasilnya sama sekali belum maksimal. Jumlah pembeli sangat minim dan tak keuntungan yang didapat jauh lebih sedikit dibandingkan berjualan biasa di tempat wisata. Belum lagi jika pembeli memberatkan ongkos kirim yang harus ditanggung.
Mengandalkan Bantuan Pemerintah
Dalam masa-masa sulit pandemi, para pedagang yang hampir gulung tikar hanya bisa mengandalkan bantuan pemerintah. Mulai dari bantuan sembako, subsidi listrik, hingga pemberian uang tunai. Namun, berbagai bantuan tersebut kedatangannya tak tentu dan tak bisa diandalkan.
Risiko Tertular Covid-19 Saat Berjualan
Ketika pemerintah mulai melonggarkan kebijakan PSBB, sejumlah tempat wisata kembali dibuka dan para pedagang pun boleh berjualan lagi. Namun, bukan berarti masalah yang dihadapi pedagang telah selesai. Mereka justru beresiko besar tertular virus Covid-19 ketika berjualan.
Pasalnya, para pedagang berhadapan dengan banyak orang dari berbagai lokasi berbeda yang tak terjamin kesehatannya. Sebagai tenaga kerja lepas, mereka juga tidak mendapatkan akses rapid test layaknya pekerja kantoran. Sehingga sulit mendeteksi risiko penularan virus yang mungkin terjadi.
Tantangan Membuka Pariwisata di Tengah Pandemi
Kini angka kasus positif Covid-19 di Indonesia mulai mengalami penurunan. Tingkat vaksinasi di berbagai daerah juga mulai digalakkan. Kabar baik ini pun disambut penuh optimisme oleh banyak pedagang di sekitar tempat wisata untuk kembali membuka usahanya secara normal.
Meski begitu, para pedagang perlu menyesuaikan diri terhadap banyak hal. Mulai dari kesadaran diri untuk mematuhi protokol kesehatan, bersedia vaksinasi dosis 1 dan 2, serta mencegah kerumunan di toko masing-masing. Sehingga pedagang turut membantu memutus rantai penyebaran Covid-19.
Yang paling penting diantara semua itu adalah perlunya inovasi dan kemauan terus belajar dari para pedagang itu sendiri. Jangan sampai badai Covid-19 yang tiba-tiba datang hingga menimbulkan para pedagang kelimpungan hanya karena tidak punya sumber penghasilan lain.
Pandemi Covid-19 memang menimbulkan banyak kerugian, tapi tak ada gunanya jika kita hanya mengutuknya tanpa penyelesaian. Kini waktunya para pedagang di tempat wisata juga aktif berjualan online dan terus melakukan inovasi usaha yang menarik pelanggan.

 

Artikel oleh: Intan Diana Wildha Pratiwi

Berita terkait


INDOPOLITIKA TV

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *