INDOPOLITIKA – Kisah Khairun Nisya, perempuan asal Palembang yang sempat viral karena diduga menyamar sebagai pramugari Batik Air, kini memasuki fase baru.

Ditengah derasnya sorotan publik dan kekhawatiran soal keamanan penerbangan, Khairun Nisya justru memperoleh kesempatan tak terduga berupa tawaran pendidikan pramugari gratis dari Aeronef Indonesia.

Dalam pernyataan resminya yang diunggah melalui akun Instagram @aeronefacademy dikutip Rabu (14/1/2026), Aeronef Indonesia menyampaikan empati sekaligus dukungan moral kepada Khairun Nisya.

Pihak akademi menilai kegagalan bukanlah akhir perjalanan, melainkan awal untuk membangun masa depan yang lebih baik jika diarahkan dengan langkah yang benar.

Aeronef Academy kemudian menawarkan pendidikan pramugari 100 persen gratis kepada Nisya. Program tersebut mencakup pembelajaran hingga sertifikasi resmi, sehingga Nisa dapat mengejar cita-citanya menjadi pramugari profesional secara sah dan sesuai aturan.

Pihak Aeronef menegaskan, niat baik harus dibarengi dengan proses yang tepat. Mereka berharap melalui pendidikan resmi, Nisa dapat mengenakan seragam pramugari yang sesungguhnya dengan bekal kompetensi dan legalitas yang jelas.

Untuk menindaklanjuti tawaran tersebut, Nisa diminta menghubungi akun Instagram resmi @aeronefacademy.official melalui pesan langsung.

Aeronef Academy juga menjelaskan alasan di balik keputusan ini. Menurut mereka, semangat dan usaha Nisa patut diapresiasi meski caranya keliru.

Diketahui, Nisa nekat menyamar sebagai pramugari karena rasa malu kepada orang tuanya serta keinginan kuat untuk membanggakan keluarga.

Sebelumnya, publik dihebohkan oleh viralnya kasus pramugari gadungan dalam penerbangan Batik Air rute Palembang–Jakarta.

Seorang perempuan diketahui ikut terbang dengan mengenakan seragam dan atribut pramugari lengkap, meski diduga bukan awak kabin aktif.

Ia membeli tiket secara mandiri dan memiliki boarding pass resmi, sehingga dapat melewati proses boarding layaknya penumpang biasa.

Kecurigaan muncul ketika perempuan tersebut tetap mengenakan seragam pramugari selama penerbangan dan berinteraksi dengan kru kabin asli.

Saat ditanya mengenai tugas dan prosedur keselamatan, jawabannya dinilai tidak sesuai dengan standar seorang pramugari profesional.

Setibanya di Bandara Soekarno-Hatta, petugas Aviation Security (Avsec) melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Meski sempat mengaku sebagai pramugari Batik Air dan menunjukkan kartu identitas, ID tersebut diketahui sudah tidak berlaku. (Nul)

Cek berita dan artikel menarik lainnya di Google News Indopolitika.com