Internasional

Demokrasi Bermasalah Ketika Ada yang Dipaksakan

Profesor Vitit Muntarbhorn dalam diskusi di CSIS di Jakarta, Rabu 29 Agustus 2018 (Foto: Sonya Michaella/Medcom.id).

Jakarta: Berbicara soal demokrasi, Indonesia adalah salah satu negara di Asia yang kerap dipuji karena sistem demokrasinya. Hal ini juga dilontarkan oleh seorang profesor asal Thailand, Vitit Muntarbhorn.
 
"Kebebasan berekspresi dan berpendapat adalah hak dan kunci untuk memenuhi hak-hak yang lain, misalnya kebebasan beragama yang di mana itu adalah standar universal," kata Vitit, di Jakarta, Rabu 29 Agustus 2018.
 
"Saya sangat bangga dengan Indonesia. Negara ini adalah salah satu negara maju dengan sistem demokrasi yang sangat bagus," lanjut dia.
 
Namun, menurutnya, demokrasi pun memiliki masalah ketika mereka yang menganut demokrasi itu mencoba untuk memaksakan sesuatu, misalnya terkait dengan menganut agama tertentu dan hak-hak lainnya.
 
"Semua orang berhak untuk mengeluarkan pendapat dan memilih tanpa campur tangan orang lain," tegas dia.
 
Di samping itu, Vitit menambahkan bahwa di negara-negara dengan demokrasi berkembang, masih banyak propaganda bertebaran. Sayangnya, propaganda tersebut sejatinya membuat rakyat terpecah belah.
 
"Semua propaganda yang berbau diskriminasi, dan ujaran kebencian terhadap agama, suku atau ras tertentu, harus ditangani secara hukum," ucapnya.
 
Pria asal Thailand ini sekarang mengemban tugas sebagai profesor senior di Universitas Chulalonkorn Bangkok. Sejak dulu, ia memang dikenal sebagai sosok yang kerap memperjuangkan HAM.
 
Vivit juga pernah menjadi Pelapor Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk situasi HAM di Korea Utara.

Tags

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close