Internasional

Demonstran Hong Kong Ancam Tarik Dana Besar-Besaran, Saham Bank of China Turun

Indopolitika.com, HONG KONG– Harga saham Bank of China turun. Sekitar 1 persen. Penurunan itu cukup untuk menunjukkan bahwa ancaman penduduk Hongkong berdampak.

Pada Senin (8/7) dalam berbagai forum ramai dibicarakan rencana untuk menarik uang besar-besaran dari bank milik pemerintah Tiongkok tersebut. Usulan dari salah seorang demonstran itu mendapat banyak dukungan.

Bank of China adalah satu di antara tiga bank di Hongkong yang memiliki lisensi untuk mengeluarkan uang kertas sendiri. Rencananya, penduduk Hongkong menarik uang secara serentak pada Sabtu (13/7). Jika dana ditarik besar-besaran, bank bakal sulit mencairkan uang nasabah. Mereka mungkin harus menjual aset-aset. Likuiditas bank juga akan menurun.

Ide itu muncul setelah warga berang atas sikap polisi pada Minggu (7/7). Massa bentrok dengan polisi yang mengakibatkan lima orang ditangkap. Versi polisi, demonstran diminta bubar, tetapi malah melakukan penyerangan. Beberapa jam sebelumnya, satu orang juga ditangkap karena tidak bisa menunjukkan identitas saat dihentikan polisi.

Cerita versi para demonstran berbeda. Mereka hendak pulang dari aksi damai di Distrik Tsim Sha Tsui. Di area Mong Kok, mereka bertemu dengan polisi yang sudah menghadang. Massa dilarang lewat.

Entah bagaimana, bentrokan tidak terhindarkan. Polisi menggunakan tongkatnya untuk menyerang demonstran. Dalam berbagai video amatir, tampak kebrutalan polisi yang berujung pada terlukanya beberapa pendemo.

“Satu contoh lain dari penggunaan kekuatan berlebihan oleh polisi,” cuit aktivis demokrasi Joshua Wong di akun Twitter-nya sebagaimana dikutip Agence France-Presse (AFP). Dia juga mengunggah foto beberapa demonstran yang terluka di bagian kepala hingga berdarah.

Massa tidak berencana untuk berhenti beraksi hingga tuntutan dipenuhi. Yaitu, RUU Ekstradisi dicabut sepenuhnya, Chief Executive Hongkong Carrie Lam mundur, memberikan amnesti kepada seluruh demonstran yang ditangkap, dan menyelidiki tindakan brutal polisi.

Aksi kali ini beda dengan Umbrella Movement 2014 lalu. Kali ini tidak ada sosok pemimpin seperti Joshua Wong dulu. Demonstran aman karena pemerintah tidak bisa mengejar orang tertentu yang dianggap sebagai tokoh utama.

Tanpa pemimpin, tidak ada sosok yang bisa mewakili untuk berdialog dengan pemerintah. Dalam setiap aksi, rata-rata ada 1-2 juta orang. Massa menggunakan forum dan aplikasi pengirim pesan untuk mengoordinasikan langkah selanjutnya. Siapa pun boleh usul. Yang direalisasikan adalah ide yang paling banyak didukung.

Dalam setiap aksi, ada pusat pasokan yang mendistribusikan air, makanan, sarung tangan, payung, dan berbagai hal lainnya. (jp)

Tags

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close