Di Bandara Soetta, Ribuan Smartphone Senilai Rp 3,5 Miliar Direndam Air Garam

  • Whatsapp
Petugas Bea Cukai Bandara Soetta hancurkan ribuan HP ilegal.

INDOPOLITIKA.COM Petugas bea dan cukai Bandara Soekarno Hatta menghancurkan ribuan handphone atau telepon genggam illegal berbagai merek, Selasa (8/10). Alat komunikasi tersebut hasil sitaan petugas yang diimpor secara ilegal melalui terminal kedatangan Internasional ataupun terminal kargo.

Sebelum dilakukan pemusnahan, ribuan gadget itu terlebih dahulu direndam di dalam air garam. Selanjutnya dimusnahkan dengan cara dilindas menggunakan alat berat.

Baca Juga:

Kepala Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai Tipe C Soekarno-Hatta, Erwin Situmorang kepada wartawan mengatakan, gadget yang statusnya menjadi Barang Milik Negara (BMN) itu merupakan hasil tegahan petugas selama priode Juni s/d Desember 2018.

“Setelah melalui proses ke Menteri (Keuangan) maka hari ini dilakukan pemusnahan,” kata Erwin di Terminal Kargo Bandara Soetta, Tangerang, Selasa (8/10/2019).

Dikatakan Erwin, gadget yang dimusnahkan tersebut didominasi atau dibawa dari Hongkong dan Singapura dengan cara dibawa langsung (hand carry). Karena masyarakat yang kurang paham aturan.

Sebanyak 2.464 unit smartphone senilai Rp 3,5 miliar sitaan Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai Tipe C Soekarno Hatta, dimusnahkan dengan cara direndam semalaman di air garam dan dilindas alat berat, Selasa (8/10).

Menurut Erwin, gadget merupakan barang yang dibatasi. Artinya, setiap penumpang hanya diperbolehkan membawa 2 unit gadget baru dan tentunya membayar bea masuk. Barang itu hanya diimpor secara resmi oleh importir yang telah mendapat izin dari kemenkominfo. Sehingga masyarakat hanya dizinkan membawa 2 handphone masuk ke Indonesia.

“Bukannya bebas, kalau dibawah USD 500 bebas, kalau diatas USD 500 harus bayar pajak. Kalau tidak kami tindak. Berdasarkan perintah Kementerian Keuangan, Handphone itu kami musnahkan,” tegas Erwin.

Adapun ponsel yang dimusnahkan tersebut diantaranya, 27 unit iPhone, 266 unit iPhone X, 225 unit iPhone 8+, 54 unit iPhone 7, 72 unit iPhone 7, 26 unit Samsung S9+ (tiruan), 1600 unit Xiaomi dan 194 ponsel berbagai tipe dan kondisi.

Sementara, Mr Lee utusan dari Samsung Indonesia mengakui, untuk saat ini praktek black market atau BM di Indonesia, terutama kota-kota besar, sudah jauh menurun. “Bahkan teman saya bawa 2 sampai 3 handphone saja, disita. Padahal dia beli resmi di luar negeri, kami apresiasi itu,” tuturnya.

Padahal pada tahun 1999 sampai 2001 atau pada saat awal masuk Samsung ke Indonesia, praktek BM tersebut marak terjadi. Dia mengaku sering mengikuti razia, sehingga semakin kesini praktek tersebut mulai terminimalisir. “Sebab, itu sangat merugikan untuk produser resmi seperti kami. Belum lagi untuk Indonesia, pajaknya jadi menguap atau bahkan hilang,” tutupnya.[asa]

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *