Isu ‘Aibon’ APBD DKI Digilas Framing Positif Pembongkaran Atap JPO

  • Whatsapp
Pengguna JPO tengah asyik welfie di atas JPO di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta.

INDOPOLITIKA.COM- Pertempuran isu pembongkaran atap Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) versus pembahasan RAPBD DKI Jakarta di ranah twitter jadi perhatian analis media sosial Drone Emprit and Kernels Indonesia, Ismail Fahmi.

Lewat akun twitternya @ismailfahmi melakukan riset terkait kedua isu tersebut. Dan hasilnya, ternyata tren pembahasan JPO meroket melawati isu RAPBD yang sebelum jadi perbincangan warga net.

Baca Juga:

“Trennya (JPO) meningkat pesat hingga tgl 8 Nov. Dibandingkan dengan (R)APBD, tampak jelas tren JPO ini naik pesat hingga mampu melewati (R) APBD,” cuit Ismail sembari menyertakan grafik perbandingan tren perbincangan antara JPO dan RAPBD di akun twitternya Sabtu (09/11/2019).

“JPO mendapat 60% melewati (R)APBD yang hanya 40%. Padahal untuk JPO sudah diberi filter. Tanpa filter, tentu akan lebih besar lagi prosentasenya. Kalau disadari polemik tsb menguntungkan promosi JPO ini,” tambah Ismail.

Dalam risetnya, Ismail menyertakan beberapa gambar framing dari pertempuran kedua isu tersebut. Diantaranya ada gambar Anies Baswedan dan utasan beberapa berita online, serta gambar pengguna JPO yang menutup kepalanya menggunakan bak.

Berdasarkan penelitiannya, dalam sepekan terakhir top image yang paling banyak dishare di Twitter sudah diwarnai oleh framing dari yang Pro dan Kontra. Framing negatif saat awal, mulai digerus oleh framing positif dari foto-foto bagus dari JPO. Info yg sampai ke publik setidaknya tidak lagi tunggal. Hal inilah yang bisa jadi akhirnya sanggup mendongkrak framing positif dari JPO.

“Closing. Dari data Drone Emprit ini, tampak jelas bahwa Gubernur¬† @aniesbaswedan menikmati promosi gratis terkait JPO “Sky Roof”, dari percakapan yang kontra maupun yang pro atas keberadaannya. Foto2 bagus dari JPO tsb yg juga viral, turut menempel dalam persepsi publik,” kata Ismail.

Lantas apakah sebaiknya polemik tentang JPO ini dihentikan atau diteruskan? Menurut Ismail kedua-duanya baik. Kalau dihentikan, maka keriuhan berhenti. Kalau dilanjutkan, promosi terus berjalan juga.

“JPO ini memberi contoh bagaimana strategi “Telling Own Narratives” bekerja. Narasi negatif tentang JPO yang ditampilkan melalui gambar orang kepanasan, dilawan dengan gambar positif indahnya gedung2 yang difoto dari arah JPO,” tandasnya.

Beragam komentar dilayangkan warga net terhadap hasil penelitian ini. Akun @agussediono82 misalnya berkomentar; “Artinya yg merasakan keindahan JPO itu lebih banyak drpd yg merasakan kepanasan atau kehujanan. Disisi yg lain counterlah narasi negatif dg menunjukan fakta2 positifnya biar nanti warga yg menilai toh tujuan pembuatan JPO jg kan obyeknya warga,” katanya.

Ada pula @TaufiqMarhaban yang mengklaim sudah curiga sejaka awal dibalik munculnya isu JPO. “Dari awal sudah curiga emang sengaja di blow up untuk menutupi aibon,” katanya. [sgh]

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *