Pemerintahan

Di Kampus UNJ, KSP Ajak Anak Muda Jadi Tonggak Perubahan

JAKARTA – Masih dalam rangkaian kegiatan ImpACT Talks! Leadership, Career and Scholarship, tim Kedeputian III Kantor Staf Presiden (KSP) mengunjungi kampus Universitas Negeri Jakarta (UNJ) di Rawamangun untuk berbagi pengalaman dan tips seputar kepemimpinan, karier, dan bagaimana mendapatkan beasiswa.

Lewat ajang ini, KSP ingin mendorong generasi muda mewujudkan potensi dirinya secara maksimal. Hal ini sejalan dengan fokus pemerintahan Joko Widodo tahun ini untuk membangun sumber daya manusia.

“Dua puluh lima persen dari jumlah penduduk Indonesia adalah generasi muda. Generasi muda harus menjadi tonggak perubahan yang akan membawa Indonesia ke kondisi yang lebih baik,” kata Tenaga Ahli Utama KSP Wahyu Widodo, di aula UNJ, Kamis, 4 April 2019.

Oleh karena itu, Wahyu mengimbau agar generasi muda mengasah kepemimpinan dan memanfaatkan beasiswa sebagai sarana mengembangkan diri lebih lanjut. Pemerintah saat ini menyediakan beasiswa melalui Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) bagi mereka yang ingin mendapatkan pendidikan lanjut.

Plt. Rektor UNJ Intan Ahmad juga menekankan pentingnya leadership dalam dunia kerja dan sosial. Salah satu faktor terpenting dalam leadership ini adalah ketrampilan komunikasi yang baik agar orang bisa memahami dan merealisasikan gagasannya. Selain itu, “Seorang pemimpin yang baik tidak hanya bicara, tapi juga walk the talk, harus bisa memberikan contoh,” imbuh dia.

ImpACT Talks!, yang mengusung tema ‘Leadership, Career and Scholarship’, menurut Intan Ahmad, menjadi kesempatan yang baik bagi para mahasiswa untuk belajar langsung tentang leadership dan pengembangan karier dari para tenaga ahli di KSP.

Jujur, menjadi diri sendiri

fan5ImpACT Talks! kali ini merupakan putaran keempat. Sebelumnya, KSP telah menyelenggarakan ImpACT Talks! di Universitas Atma Jaya, Universitas Paramadina, dan Universitas Prasetia Mulya. Tak kalah dengan kampus lainnya, ratusan mahasiswa hadir dan antusias mengikuti ImpACT Talks! di UNJ yang berlangsung hampir tiga jam. Maklum, acara ini menghadirkan tiga narasumber yang atraktif dari KSP dan satu alumni UNJ. Mereka adalah Marcella Wiyanti, Reno Bagaskara, Azka Azifa, dan Palupi Mutiasih.

Keempat narasumber yang dihadirkan sungguh istimewa, semua merupakan penerima beasiswa dari beberapa lembaga, baik dalam negeri (LPDP dan Bidikmisi) maupun luar negeri.

Mereka bercerita, salah satu kunci untuk mendapatkan beasiswa adalah jujur menjadi diri sendiri. “Ketika membuat essay dan dalam wawancara, jadilah diri sendiri. Dari kejujuran kalian ini, orang akan melihat integritas kalian,” kata Reno, yang tahun ini akan melanjutkan studi ke Columbia University.

Palupi, alumni UNJ yang memakai metode dogeng untuk mengajar anak-anak, juga menyoroti pentingnya konsisten melakukan kegiatan yang kita yakini manfaatnya, baik untuk pengembangan diri maupun orang lain.

“Untuk dapetin beasiswa LPDP, kuncinya konsisten dengan apa yang sedang kalian kerjakan sekarang dan juga yang akan teman-teman lakukan ke depan. Kalau dari awal teman-teman tidak konsisten, maka teman-teman tidak akan bisa membuktikan itu,” kata perempuan yang aktif di Fun Garden of Literacy ini.

Agar bisa yakin dan konsisten dengan pilihan kita dan apa yang kita kerjakan, bagi Azka, perlu mengetahui dulu ruh dan alasan filosofis dari keputusan kita. Ia mencontohkan, dirinya memilih langsung bekerja di sektor publik meski lulus dengan predikat terbaik dari Fakultas Ekonomi Bisnis, Universitas Gadjah Mada (UGM), karena dari awal memang ingin ilmunya bermanfaat bagi masyarakat.

“Kenapa ruh dan (alasan) filosofis itu penting, karena itu yang akan membuat teman-teman going extra miles,” ujar pegiat cegah stunting ini.

Jangan mudah menyerah

fan2Dalam polling yang dilakukan selama ImpACT Talks! berjalan, sebagian besar mahasiswa UNJ ingin langsung bekerja setelah lulus kuliah (64%). Selebihnya, ingin melanjutkan kuliah ke jenjang lebih tinggi (36%). Apa pun pilihannya, tentu tidak ada yang salah. Namun, menurut Reno, yang terpenting adalah alasannya. “Jangan sampai, pilihan melanjutkan kuliah itu hanya alasan untuk lari dari social obligation kita,” ujarnya.

Reno, yang selama bekerja di KSP aktif terlibat dan mengawal program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), berpendapat, ada nilai lebih ketika seseorang memilih bekerja terlebih dahulu sebelum mengambil S2. Saat menjalani suatu pekerjaan, seseorang akan belajar banyak hal, mengetahui apa yang dia sukai dan tidak sukai, serta memperluas perspektif tentang ilmu apa yang dibutuhkan di dunia kerja. “Itu akan sangat membantu kalian untuk menentukan jurusan apa yang ingin kalian ambil ketika melanjutkan kuliah,” jelas Reno.

Di samping itu, berdasarkan pengalaman Marcella, dunia kerja juga akan melatih leadership seseorang, mulai dari kemampuan berkomunikasi yang baik, menghargai teamwork, cara berpikir kritis, serta mengambil keputusan yang tepat dan cepat. Pengalaman nyata ketika bekerja juga akan memudahkan pencari beasiswa pada saat harus menuliskan esai.

Tentu saja tidak ada jalan mudah untuk mendapatkan beasiswa. Apalagi, beasiswa pendidikan ke luar negeri yang banyak sekali pesaingnya. Namun demikian, para narasumber mengingatkan agar rekan-rekan mahasiswa UNJ tidak takut gagal sebelum mencoba. “Kalau teman-teman lihat, mungkin saya mendapatkan banyak beasiswa. Tapi, asal teman-teman tahu, saya juga banyak sekali ditolak,” beber Marcella, alumni University College London, yang pernah aktif di Indonesia Mengajar.

Agar tidak gampang putus asa, Cella – sapaan akrab Marcella – menasehati agar rekan-rekan mahasiswa mengelilingi dirinya dengan orang-orang yang memiliki spirit sama, yakni mereka yang berpikir positif dan ingin maju. Singkatnya, jangan berhenti untuk mencoba dan jangan takut untuk mencoba. “You will be surprised how far your willingness will take you. Never give up. Kalau gagal, come back and come back strong,” pungkas Reno.

fan1

Tags

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close