Di Manado, KSP Tegaskan Anak Muda Harus Jadi Kreator

  • Whatsapp

MANADO – Di era industri 4.0 yang berbasis digital, kita dipaksa hidup dalam suasana yang rawan terhadap kemungkinan merasuknya nilai-nilai yang destruktif, terutama melalui media sosial. Banyak konten-konten hoaks, ujaran kebencian, dan perundungan (bullying) yang tersebar di media sosial yang kadang tanpa kita sadari dengan menerimanya begitu saja. Jika kita tidak memiliki wawasan yang cukup, hal-hal buruk itu bisa dianggap biasa dan bukan sebagai kesalahan.

Muat Lebih

Oleh karena itulah, anak-anak muda yang suatu saat akan menjadi pemimpin, harus tampil tidak sekadar menjadi objek atau pembaca yang pasif melainkan menjadi kreator yang bisa memenuhi dunia sosial dengan konten-konten yang positif dan kontsruktif.mand

Inilah antara lain yang diharapkan dari kegiatan ‘Creatormuda Academy’ yang diadakan Maarif Institute bekerjasama dengan Ruang Guru, Cameo Project, Peace Generation, dan LoveFranky,  pada tanggal 19-20 Juli 2019 di Hotel Aston Kota Manado, Sulawesi Utara.

Dalam acara yang diikuti 170 siswa siswi SMA sederajat se-Sulawesi Utara ini menampilkan nara suber antara lain personel Project Pop Yosi Mokalu, Direktur Program Maarif Institute Khelmy Pribadi, Manajer Cameo Project Oktora Irahadi, Redaktur Islami.co Dedik Priyanto, Arthur Tumipa dari Dinas Pendidikan Sulawesi Utara, dan Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden Abd Rohim Ghazali.

Selama dua hari, siswa-siswi yang dibagi dalam sepuluh kelompok selain dilatih untuk menulis kreatif, fotografi, membuat video/film pendek, dan desain grafis, mereka juga diharuskan menampilkan hasil karya kelompoknya berupa film pendek yang sarat narasi inspiratif, dengan disaksikan kawan-kawannya, dan diberi kritik dan saran oleh para pelatihnya.man3

“Setelah mengikuti pelatihan ini, anak-anak muda diharapkan memiliki komitmen untuk meninggalkan kebiasaan memosting hal-hal buruk di media sosial. Jika sudah biasa memosting hal-hal baik, bisa ditingkatkan lagi sehingga makin mempersempit celah munculnya hal-hal negatif,” ujar Abd Rohim Ghazali. “Ilmu yang kalian dapatkan di pelatihan ini harus dipraktikkan dengan membuahkan hasil positif untuk menginspirasi teman sebaya, dari teman satu sekolah hingga anak-anak muda lainnya seluruh Indonesia bahkan dunia,” kata Abd Rohim Ghazali.

Literasi Sebagai Sumber Kemajuan

Salah satu kelemahan kita, menurut Rohim, adalah rendahnya minat baca. Dibandingkan negara-negara lain, tingkat kesadaran literasi kita paling rendah. Padahal, literasi merupakan sumber utama kemajuan suatu bangsa.

“Kalian yang Muslim tentu pernah dengar ungkapan uthlubul ‘ilma walau bish-shin atau carilah ilmu walau sampai ke Cina. Ini diucapkan pada Abad ke-7 di dunia Arab,” papar Rohim. “Mengapa Cina, bukan Eropa atau negara lainnya? Karena Cina adalah tempat diciptakan kertas untuk pertama kalinya oleh Ts’Ai Lun pada tahun 105 M. Setelah kertas diproduksi secara massal, budaya literasi berkembang di Cina sehingga pada abad ke-7 dan 8 menjadi negara dengan kebudayaan termaju di dunia, meninggalkan kebudayaan Barat yang sebelumnya lebih maju.”

Bayangkan, lanjut Rohim, sebelum ada kertas, di Cina, buku ditulis pada batang-batang bambu, atau pada kulit-kulit binatang. Untuk membawa satu buku dibutuhkan gerobak. Setelah ada kertas, bentuk buku menjadi kecil, mudah dibawa dan dibaca. “Para ilmuwan pun rajin menulis dan memproduksi buku sehingga kebudayaan melaju pesat.”screen-shot-2019-07-21-at-00-04-44

Baru pada abad ke-15, setelah Johann Gutenberg menemukan mesin cetak, kebudayaan Barat kembali bangkit meninggalkan Cina. Karena dengan mesin cetak, buku bisa diproduksi secara massal dalam waktu yang singkat. Ilmu pengetahuan, dalam berbagai cabang berkembang. Peradaban Barat pun maju pesat.

Untuk mendorong bangkitnya kesadaran literasi, para peserta “Creatormuda Academy” memiliki tanggungjawab moral untuk mempelopori gerakan literasi dengan memulainya dari diri sendiri, di lingkungan sekolah dengan mengembangkan mading, dan lain-lain.

Gerakan literasi juga bisa dikembangkan menjadi semacam titik temu untuk memupuk dan menjaga toleransi, kebersamaan, dan soliditas sosial di tengah keragaman suku, agama dan kepercayaan, bahasa, dan lain-lain sehingga keutuhan keindonesiaan kita tetap terjaga. manado1

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *