Din Syamsudin: Tuduhan Radikalisme Adalah Kekerasan Verbal

  • Whatsapp
Din Syamsudin

INDOPOLITIKA.COM – Insiden penusukan yang dialami oleh Menkopolhukam, Wiranto dikait-kaitkan dengan isu radikalisme yang menyudutkan umat Islam. Ketua Dewan Pertimbangan MUI, Din Syamsudin mengatakan bahwa tuduhan sangat tendensius lantaran tanpa disertai bukti menjadi kekerasan verbal.

“Ini saya mengamati ada gejala kecenderungan ingin menggunakan isu radikalisme, ekstrimisme dengan tendensi tertentu dan yang dirasakan adalah diarahkan kepada kalangan Islam. Ini kan sebenernya lagu lama yang dulu di awal Orde Baru dipakai ekstrem kiri dan kanan, tapi dengan bahasa lain terpapar radikalisme ekstrimisme. Ini adalah istilah-istilah majoratif tidak konstruktif sangat tendensius,” ungkap Mantan Ketua Umum PP Muhamadiyah usai mengikuti pengajian bulanan Universitas Muhamadiyah Tangerang, Sabtu (12/10) sore.

Baca Juga:

Di Negara yang berdasarkan hukum, jika ada bukti pelanggaran maka tegakkan dengan hukum, tangkap, dan bawa ke pengadilan.

“Tuduhan radikalisme itu kan kekerasan verbal. Seharusnya selesaikan di pengadilan, jangan bermain pada tuduhan dengan istilah radikalisme ternyata tidak ada (bukti),” ungkapnya.

Sementara itu, terkait peristiwa penusukan terhadap Wiranto yang dilakukan pasangan suami istri, Din menilai tuduhan radikal tidak bisa dibuktikan oleh penegak hukum.

“Karena tersangka tidak pernah salat di masjid atau mengikuti pengajian tertentu,” tegasnya.

Din juga menyinggung mengenai pelaku yang dikatakan telah dipantau aparat penegak hukum selama tiga bulan.

“Menurut keterangan penegak hukum, tersangka itu sudah dipantau sejak tiga bulan lalu tapi kenapa hal itu bisa kecolongan. Ada yang bilang tersangka terkait dengan ISIS, ternyata tidak. Hingga akhirnya dibilang stres berat,” jelasnya.

Dia pun mendesak kepada pejabat pemerintah atau aparat penegak hukum untuk meminta maaf kepada umat Islam atas tuduhan radikalisme tanpa bukti tersebut.

“Dalam hal ini pejabat pemerintah, aparat penegak hukum dan keamanan yang sudah menuduh duluan adakah yang meminta maaf? Jadi jangan hanya menuduh tanpa bukti,” imbuhnya.[ab]

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *