Disebut-sebut Terlibat Kasus Suap Proyek Infrastruktur Elite PKB Tiarap

  • Whatsapp

INDOPOLITIKA.COM- Perkara suap proyek infrastruktur Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kementerian PUPR) agaknya bakal menjadi ombak besar bagi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) menyusul manuver Musa Zainuddin, politikus PKB yang menjadi terpidana dalam kasus ini menawarkan diri menjadi justice collaborator (JC) ke KPK.

Dalam perkara ini beberapa elite PKB disebut-sebut Musa turut menerima duit suap.Mereka adalah; Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar, Sekjen PBNU yang dulu sempat menjadi ketua Fraksi PKB di DPR Helmy Faishal Zaini serta Wakil Ketua MPR asal PKB Jazilul Fawahid.

Baca Juga:

Musa mengatakan saat di DPR dia diplot oleh Cak Imin- sapaan akrab Muhaimin Iskandar, untuk mengamankan jatah anggaran PKB dalam pangadaan proyek infrastruktur di Maluku dan Maluku Utara tahun anggaran 2016. “Saya diminta mengawal kebijakan partai dan mengamankan jatah anggaran PKB,” cerita Musa seperti dikutip dari Tempo.co.

Dari situ, diungkapkan Musa, belakangan ia diajak bertemu dengan Abdul Khoir. Dia adalah Direktur PT Widhu Tunggal Utama. Khoir tertarik mengerjakan paket jatah PKB dan menjanjikan fee Rp 7 miliar.

Kemudian, dikatakan Musa, oleh PT Windu Tunggal Utama, uang tersebut diberikan kepada orang kepercayaan Musa, Jailani dan Mutaqin. Setelah menerima uang, kemudian Musa menghubungi Jazilul untuk mengambil uang sebesar Rp 6 miliar dari total Rp 7 miliar di rumah Musa, kompleks rumah dinas DPR.

Musa mengatakan, beberapa bulan sebelum ada proyek infrastruktur ini, Cak Imin sempat bilang menginginkan ada kader PKB yang bisa memimpin Jawa Timur. Pada saat itu, kebetulan kader yang akan diusung PKB adalah kerabat Cak Imin. Sehingga, kata dia, partainya butuh logistik untuk pencalonan.

“Saya menangkap pesan pembicaraan tersebut agar saya bisa membantu. Saya tidak tahu persis pengunaan uang tersebut. Setelah uang saya serahkan kepada Jazilul, saya mengontak Helmy Faisal dan meminta kepadanya untuk menyampaikan pesan kapada Muhaimin bahwa uang Rp 6 miliar sudah diserahkan melalui Jazilul,” tutup Musa.

Mengonfirmasi pernyataan Musa, Helmy Faishal Zaini yang dihubungi Indopolitika.com via ponselnya enggan mengangkat ponselnya. Namun tak lama berselang, Helmy me-whatsapp Indopolitika.com “Bisa wa dulu msh rpt,” begitu kata Faishal.

Indopolitika.com membalas dengan manyatakan ingin mengonfirmasi pernyataan Musa seputar kasus suap proyek infrastruktur Maluku dan Maluku Utara. Dari situ hingga berita ini diturunkan Helmy tak membalas lagi. Saat dihubungi ponselnya yang semula aktif, menjadi non aktif.

Sementara itu Sekjen PKB Hasanuddin Wahid yang dihubungi indopolitika.com pun enggan mengakat ponselnya. Agaknya politikus PKB lebih memilih tiarap dalam menghadapi kasus ini.

Sekadar informasi, beberapa pekan sebelumnya beredar blasting WA dari kiai dewan syuro kepada kader-kader PKB. Isinya meminta kepada ketua DPW, DPC, DPAC dan seluruh pengurus dan kader PKB agar mengamalkan bacaan Al fatihah 101 kali setiap hari, membaca doa tolak balak dan keselamatan, diniatkan agar PKB, NU, Ketum dan para pengurus selamat.

Blasting WA ini beredar sejak KPK merilis nama pihak-pihak yang akan dipanggil untuk diperiksa terkait kasus korupsi, termasuk kasus suap proyek infrastruktur di Maluku dan Maluku Utara ini. [sgh]

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *