Internasional

Ditekan AS, Presiden Iran Serukan Persatuan Nasional

Presiden Iran Hassan Rouhani dalam sebuah acara di Teheran, 7 September 2018. (Foto: AFP/Iran Presidency)

Teheran: Presiden Iran Hassan Rouhani mengingatkan kembali mengenai kengerian perang Iran-Irak dalam menyerukan kesatuan nasional di tengah tantangan ekonomi dan tekanan dari Amerika Serikat.

"Hari ini, pemerintah berada di garis depan pertempuran. Ini adalah perang ekonomi, psikologi dan propaganda," ungkap Rouhani dalam pidato yang disiarkan televisi nasional Iran, Sabtu 8 September 2018.

"Kita semua telah menikmati hari-hari indah dan juga masa-masa sulit selama Sacred Defence," lanjut dia, menggunakan nama resmi dari perang Iran-Irak yang menewaskan dua juta orang antara tahun 1980 dan 1988.

"Namun negara kita tidak pernah menyerah. Sekarang juga, negara kita tidak akan tunduk pada tekanan dari grup baru di Gedung Putih," tegas Rouhani, seperti dikutip dari kantor berita AFP.

Perekonomian Iran merosot dalam beberapa bulan terakhir, yang sebagiannya diakibatkan penarikan diri AS dari perjanjian nuklir 2015. 

Perjanjian bernama Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) itu berisi kesepakatan untuk mencabut sanksi ekonomi dari Iran sebagai balasan atas pembatasan program nuklir.

Harga-harga barang di Iran naik di tengah krisis terbaru. Mata uang Iran juga kehilangan sekitar 70 persen dari nilainya terhadap dolar bila dibandingkan periode sama tahun lalu.

Rouhani mengatakan AS terus menekan Iran dan di waktu yang sama menyerukan untuk bernegosiasi "pada setiap harinya."

"Mana yang harus kita percaya? Pesan Anda, atau aksi brutal Anda? Jika Anda ingin yang terbaik bagi warga Iran, mengapa Anda menekan mereka?" tanya Rouhani, merujuk kepada tekanan dari AS.

Sang presiden menyerukan persatuan nasional setelah beberapa pekan terakhir ditekan kubu reformis dan garis keras di Iran mengenai penanganan krisis ekonomi terkini.

"Kita tidak bisa memerangi Amerika, kubu kiri dan kanan dalam waktu bersamaan. Kita tidak bisa berperang di tiga arah," sebut Rouhani.

"Tapi kita tidak bisa mundur dari tujuan kita hanya karena kesulitan-kesulitan sementara ini. Ingatlah mengenai hari-hari (perang) itu, yang menyakitkan namun pada akhirnya berbuah kemenangan," tegas Rouhani.

Pernyataan disampaikan Rouhani dalam acara bernama Mohammad-Ali Rajai, presiden kedua Iran yang dibunuh pada Agustus 1981. Iran menganggap pembunuh Rajai adalah grup militan-politik Mojahedin-e Khalq (MEK).

Tags

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close