Internasional

Dituduh Menghasut, Penyair Arab Dihukum Israel

Ilustrasi oleh Medcom

Tel Aviv: Seorang penyair Arab Israel dijatuhi hukuman lima bulan penjara karena dituduh menyebarkan hasutan melalui internet untuk melakukan kekerasan. Ayah sang penyair, Rabu 1 Agustus, mengatakan bahwa putusan itu tidak adil.
 
Pengadilan Israel memvonis Dareen Tatour, 36, warga sebuah desa dekat Nazaret di Israel utara, hingga lima bulan penjara pada Selasa. Vonis jatuh karena posting media sosial yang dibuat Tatour pada 2015 saat gelombang kekerasan Israel-Palestina.
 
"Ini bukan keadilan," kata ayahnya, Tawfiq Tatour, seperti dinukil dari Fox News, Kamis 2 Agustus 2018.
 
"Kami buktikan di pengadilan ada contoh dari orang Yahudi yang menghasut warga Arab di media sosial, orang Yahudi yang menyerukan pembunuhan dan pembakaran orang-orang Arab. Tetapi pengadilan tidak menerima itu. Ini adalah diskriminasi terang-terangan terhadap orang Arab," kilahnya.
 
Dia mengatakan puisi anaknya "adalah tentang para pemukim yang membunuh dan membakar orang-orang Palestina."
 
Kasus Dareen Tatour menarik perhatian internasional setelah otoritas Israel menangkapnya pada 2015 dan menempatkannya di bawah tahanan rumah yang diperpanjang atas tulisan puisinya. Lebih dari 150 tokoh sastra, termasuk penulis Alice Walker dan Naomi Klein, menyerukan agar Tatour dibebaskan. Para kritikus menyebut penangkapannya sebagai pelanggaran kebebasan berekspresi.
 
Saat menjatuhkan hukuman, pengadilan mengatakan puisi Tatour memicu kekerasan dan ekspresi kebebasan memiliki batas. Tatour juga dihukum karena mendukung kelompok teror.
 
Tatour bersikeras bahwa postingannya bukanlah seruan untuk kekerasan. Setelah vonis Selasa, Tatour berkata kepada wartawan di gedung pengadilan Nazareth bahwa kasusnya bersifat politis.
 
"Saya tidak mengharap akan ada keadilan dalam persidangan ini. Sejak awal ini adalah kasus politik hanya karena saya seorang Palestina dan mendukung kebebasan berbicara," kata Tatour. "Saya dipenjarakan hanya karena saya orang Palestina," tegasnya.
 
Tatour menerbitkan serangkaian posting di Facebook dan YouTube pada 2015 menyerukan kepada orang Palestina untuk "melawan" selama gelombang serangan pelaku tunggal Palestina terhadap warga Israel yang menyebabkan puluhan orang tewas.
 
Israel menyebut, dua tahun ledakan serangan Palestina didorong oleh hasutan untuk menyebar kekerasan di media sosial.
 
Di antara pengritik terhadap proses persidangan Tatour, seperti surat kabar berbahasa Ibrani, Haaretz. Harian itu telah melaporkan bahwa para penulis Yahudi yang memposting dan mempublikasi seruan kekerasan terhadap orang Arab di media sosial belum mendapatkan perlakuan yang sama dalam sistem hukum Israel.
 
Surat kabar tersebut menerbitkan editorial pada Rabu, yang mengatakan bahwa hukuman Tatour adalah "satu lagi titik air di lautan penganiayaan politik terhadap penentang pendudukan."

Tags

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close