DPR Minta Menag Fachrul Razi Stop Bikin Gaduh

  • Whatsapp
Menteri Agama Fachrul Razi saat Raker dengan DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (7/11/2019).

INDOPOLITIKA.COM – Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI dari Fraksi Partai Golkar Ace Hasan Syadzily meminta Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi untuk berhenti melontarkan pernyataan-pernyataan kontroversial yang membuat gaduh masyarakat.

Ace menilai, Fachrul terlalu sering membicarakan hal-hal kontroversi ketimbang soal kehidupan umat beragama. Bahkan Fachrul dinilai banyak membicarakan tupoksi lembaga lain.

Baca juga:

“Saya mohon dengan segala hormat, misalnya soal pemulangan ISIS, itu kan sebetulnya bukan kewenangan Kemenag. Atau misalnya hal-hal yang tidak perlu diatur oleh Kemenag seperti majelis taklim begitu ya, atau menyampaikan pernyataan-pernyataan yang kontroversial lain, itu yang harus sebetulnya dijaga,” tutur Ace di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (12/2/2020).

Ace meminta Fachrul memimpin Kemenag untuk mengurus harmonisasi kehidupan beragama. “Kemenag seharusnya mengarusutamakan moderasi beragama, bukan membuat gaduh,” ucap Ace.

Selain itu, Fachrul diminta fokus dalam melakukan reformasi birokrasi di Kemenag. Sebab selama ini Kemenag beberapa kali terseret kasus korupsi terkait penataan organisasi.

Ace menilai Fachrul belum menyentuh penataan organisasi selama menjabat. Dia memberi contoh jabatan Dirjen Bimas Katolik dan Irjen Kemenag yang kosong sekitar sepuluh bulan hingga memicu polemik.

“Kasus reformasi birokrasi yang dimaksud misalnya kayak kasus suap di Kanwil Jawa Timur, yang menyeret-nyeret petinggi-petinggi Kementerian Agama. Itu kan seharusnya dijadikan pelajaran ya bahwa Irjen harus menjadi prioritas utama,” tuturnya.

“Jangan sampai terkesan bahwa Kementerian Agama yang seharusnya mengayomi, melindungi, serta mewujudkan kehidupan harmoni dalam keagamaan kita itu menimbulkan berbagai kontroversi di masyarakat,” lanjutnya.

Sejak dilantik pada 23 Oktober 2019, Fachrul dikenal sebagai menteri yang kontroversial. Beberapa pernyataan yang menyita perhatian publik adalah wacana pelarangan cadar dan celana cingkrang di wilayah instansi pemerintah, sertifikasi dai, izin majelis taklim, dan pemulangan WNI eks ISIS.

Sementara itu, Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi mengaku dirinya tidak boleh lagi bicara terkait wacana pemulangan sekitar 600 orang warga negara Indonesia (WNI) mantan anggota Islamic State of Iraq and Syria (ISIS).

Fachrul mengatakan, masalah tersebut sudah menjadi ranah Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD. Fachrul mengaku hanya akan bicara saat menyampaikan usul langsung ke Mahfud.

“Nanti kalau beliau minta, saya kasih masukan. Enggak boleh lagi saya ngomong di sini karena kan sudah ada rapat Menko Polhukam,” ucap Fachrul di Kompleks Parlemen, Jakarta.

Fachrul menolak berkomentar lebih lanjut terkait wacana yang kembali ramai seusai ia sampaikan di pertemuan ormas Bravo 5 beberapa waktu lalu itu. Sebab wacana itu masih dalam tahap pembahasan internal pemerintah.

Mantan Wakil Panglima TNI itu menyampaikan ia tak akan lagi bicara terkait pemulangan WNI eks ISIS. Dia kembali menegaskan informasi terbaru terkait hal itu akan disampaikan langsung oleh Mahfud. “Kan kalau sudah ditunjuk, koordinir, kita yang ngomong nggak baik. Ngomongnya kepada yang koordinasi dong,” kata Fachrul.

Sebelumnya, polemik pemulangan WNI eks ISIS kembali bergulir usai Fachrul menyinggungnya dalam pertemuan ormas Bravo 5. Beberapa media melansir pernyataan Fachrul bahwa pemerintah lewat BNPT sedang merencanakan pemulangan tersebut.

Beberapa waktu setelahnya, Fachrul mengklarifikasi pernyataan tersebut. Dia bilang wacana itu disampaikan oleh Deputi I BNPT Hendri Lubis. Pada Jumat (7/2), Kepala BNPT Suhardi Alius menegaskan belum ada rencana pemulangan WNI eks ISIS. Dia menjelaskan BNPT hanya mendapat informasi dari beberapa lembaga intelijen nasional terkait keberadaan eks ISIS yang mengaku sebagai WNI.[ab]

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *