Drama Politik di Amerika Serikat, SBY Catatkan Delapan Poin Penting untuk Dijadikan Pelajaran

  • Whatsapp
Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono

INDOPOLITIKA.COM — Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono menanggapi terkait dinamika politik yang terjadi di Amerika Serikat dengan dilantiknya Presiden terpilih Joe Biden.

“Bagi para pencinta demokrasi, drama politik di Amerika Serikat saat ini dapat dipetik pelajarannya,” tulis SBY melalui akun twitternya @sbyudhoyono, Rabu (20/1).

Berita Lainnya

Berikut 8 poin catatan SBY tentang drama politik di Amerika:

Pertama, sistem demokrasi tidaklah sempurna, terutama implementasinya. Ada wajah baik & wajah buruk dalam demokrasi. Namun, tidak berarti sistem otoritarian & oligarki lebih baik.

Kedua, di era “post-truth politics”, ucapan pemimpin (presiden) harus benar & jujur. Kalau tidak, dampaknya sangat besar. Ucapan Trump bahwa pilpresnya curang (suaranya dicuri) timbulkan kemarahan besar pendukungnya. Terjadilah serbuan ke Capitol Hill yang coreng nama baik Amerika Serikat.

Ketiga, “post-truth politics” (politik yang tidak berlandaskan pada fakta), termasuk kebohongan yang sistematis & berulang, pada akhirnya akan gagal. Pemimpin akan kehilangan “trust” dari rakyatnya, karena mereka bisa bedakan mana yang benar (faktual) dengan yang bohong (tidak faktual).

Keempat, tiap pemilu ada yang menang, ada yang kalah. Meskipun berat & menyakitkan, siapapun yang kalah wajib terima kekalahan & ucapkan selamat kepada yang menang. Itulah tradisi politik & norma demokrasi yang baik. Sayangnya, sebagai champions of democracy, ini tidak terjadi di AS sekarang.

Kelima, kali ini pergantian kekuasaan yang damai (smooth & peaceful) tak terjadi di AS. Transisi kekuasaan dibarengi luka, kebencian & permusuhan. Ini petaka bagi AS yang politiknya terbelah (deeply divided). Energi Biden bisa habis untuk satukan AS hadapi tantangan ke depan.

Keenam, jelang pelantikan Biden, Washington DC mencekam, banyak barikade & dalam pengamanan ketat 25.000 tentara. Siapa ancamannya ? Kali ini bukan musuh dari luar, seperti biasanya, tapi “teroris domestik”. Ini titik gelap dalam sejarah AS. Juga warisan buruk yang ditinggalkan Trump.

Ketujuh, setiap krisis selalu ada pahlawannya. Saya respek kepada Wapres Mike Pence yang tunjukkan karakter kesatrianya dengan menerima hasil Pilpres yang lalu meskipun kalah. Dia tolak “perintah” Trump untuk ubah hasil pemilu karena tak berdasar. Dia hormati konstitusi & demokrasi.

Kedelapan, Pence bukan tipe yang haus kekuasaan. Dia tak memanfaatkan kesempatan untuk ambil alih kepemimpinan meskipun diminta secara resmi oleh DPR AS (sesuai amandemen ke-25 konstitusi AS). Pence menolak, karena bukan itu yang terbaik bagi bangsa AS.  (ind)

Berita Terkait


INDOPOLITIKA TV

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *