Dua Klaster Corona Baru di Jawa Timur, Komunitas Gereja dan Pasar

  • Whatsapp
Ketua Rumpun Tracing Gugus Tugas Covid-19 Jatim Kohar Hari Santoso

INDOPOLITIKA.COM – Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Jawa Timur mengungkapkan adanya dua klaster penularan virus corona baru. Klaster tersebut adalah pasar di Bojonegoro dan Komunitas Gereja di Surabaya.

Ketua Rumpun Tracing Gugus Tugas Covid-19 Jatim Kohar Hari Santoso mengungkapkan, Klaster Komunitas Gereja di Surabaya bermula ketika ada satu anggota jemaat yang positif corona. Segera setelah itu 60 anggota jemaat lainnya dilakukan rapid test.

Bacaan Lainnya

“Benar, ada dua klaster baru di Surabaya, yakni klaster Pasar Bojonegoro dan komunitas gereja,” kata Kohar Hari Santoso, di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Jumat (8/5/2020).

Klaster Komunitas Gereja tersebut saat ini tengah dipantau oleh tim tracing. Kohar mengatakan Klaster Komunitas Gereja di Surabaya bermula ketika ada satu anggota jemaat yang bertempat tinggal di asrama gereja dinyatakan positif terinfeksi COVID-19.

Di dalam asrama tersebut, diketahui ada 64 orang lain yang juga tinggal. Mereka pun telah menjalani rapid test. Namun Kohar belum bisa menyampaikan hasilnya.

“Klaster komunitas sudah lakukan rapid test, nanti kita akan cek berapa yang reaktif, yang jelas sudah kami lakukan isolasi supaya enggak ke mana-mana, jumlahnya 64,” ujarnya.

Tim tengah memantau secara seksama penghuni asrama gereja tersebut. Sedang warga sekitar asrama diminta mendukung proses isolasi di asrama ini.

‘’Kami harapkan warga sekitar asrama tetap support dalam masa isolasi. Caranya, dengan tetap menerapkan physical distance (jaga jarak),’’ kata Kohar.

Kebijakan isolasi mandiri ini, kata Kohar, perlu dilakukan karena salah satu penghuni asrama sudah berada di salah satu rumah sakit di Surabaya. Karena itu, pelaku industri dan komunitas segera melapor jika ditemukan orang terdekat mengalami gejala klinis Covid-19.

‘’Termasuk masyarakat sekitar asrama. Hal ini sebagai peringatan terus meluasnya penularan Covid-19 di Surabaya, yang sudah menerapkan PSBB,’’ ujar

Sementara itu, untuk klaster Pasar Bojonegoro bermula dari seorang pedagang sayur keliling (pedagang rengkek) yang sakit. Pedagang tersebut meninggal dunia sebelum hasil test swab PCR-nya keluar.

Setelah hasil tes PCR keluar akhirnya diketahui pedagang sayur keliling tersebut menunjukkan positif COVID-19. “Di Bojonegoro itu ada pedagang rengkek, kalau Surabaya itu lijo,” ungkap Kohar. “Dan dilakukan swab, swab-nya keluar belakangan (positif), tapi beliaunya meninggal.”

Menanggapi permasalahan ini, Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa meminta agar dilakukan penutupan terhadap pasar yang menjadi klaster baru di Bojonegoro. Penutupan perlu dilakukan selama 7 har sambil menunggu hasil swab para pedagang keluar. [rif]

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *