CapresPartai Golkar

Dukungan Ulama Untuk Capres Aburizal Bakrie Terus Mengalir

Calon presiden dari Partai Golkar Aburizal Bakrie (ARB) dikenal dekat dengan kalangan ulama. Hampir tiap saat dalam kunjungannya ke berbagai daerah ia selalu bersilaturrahmi dengan ulama setempat.

Berkat kedekatannya itu, ARB mendapat tempat di hati para ulama dan masyarakat. Dukungan pun terus mengalir seiring makin dekatnya pelaksanaan pemilihan umum presiden dan wakil presiden.

“Mencermati kepribadian beliau, dalam hidup berkeluarga dan bermasyarakat, kami doakan semoga jadi presiden 2014,” kata KH Abdul Rauf saat ditemui dalam acara Dzikir dan Doa Kebangsaan di Palembang, Minggu (20/04).

Menurut Kyai Rauf, ARB adalah sosok yang peduli akan kemajuan umat Islam. Hal ini dibuktikan dengan kontribusinya pada dunia pendidikan yang menanamkan nilai-nilai keislaman.

“Banyak lembaga pendidikan seperti TPA (Taman Pendidikan al-Quran) juga pesantren yang selama ini kurang dapat perhatian, diperhatikan oleh beliau,” tuturnya.

Selain itu, sambung Kyai Rauf, ARB juga merupakan tokoh yang berhasil membangun keluarga harmonis. Sesama anggota keluarga terlihat kompak, saling dukung untuk kebaikan bersama.

“Kearifan dalam membangun keluarga itu cermin sederhana kepemimpinannya. Saya harap harap bisa jadi suri teladan bagi umat dan bangsa,” ujarnya.

Sementara itu, KH Khalis Mansyur yang juga hadir di acara itu menyatakan, pemimpin Indonesia mendatang haruslah orang yang berpihak pada kaum mustad’afin. Terutama mereka yang hidup di pelosok dan daerah terpencil, sangat butuh peranan negara.

“Orang-orang miskin di pedesaan, di daerah terpencil, orang cacat dan terlentar mohon dengan sangat diperhatikan,” katanya.

Hal itu diutarakan karena menurutnya, keberadaan mereka seringkali terlewatkan sehingga nasibnya makin terpinggirkan. Bahkan ada kesan mereka sengaja ditelentarkan meski sudah diketahui oleh pihak yang berkuasa.

Karena itu, ia berharap pemilu presiden 2014 mampu melahirkan pemimpin yang benar-benar tulus mengabdi untuk rakyat. Pemimpin yang tak lagi berpikir tentang kepentingan diri, keluarga, kelompok atau golongannya.

“Kata orang sini, tidak lagi nyari makan ke negara, tapi yang menyejahterakan rakyatnya,” pungkasnya. (mh/ip/red)

Tags

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close