Internasional

East Asia Summit Harus jadi Forum yang Aktif

Mantan Menlu RI Marty Natalegawa saat peluncuran buku ‘Does ASEAN Matter? A View from Within’ (Foto: Sonya Michaella/Medcom.id).

Jakarta: East Asia Summit (EAS) diharapkan menjadi forum yang aktif untuk jangka panjang, tak hanya saat pertemuan itu terjadi. Jika tidak, forum ini bisa menjadi forum yang tak relevan.
 
"EAS saat ini menjadi hello-goodbye forum. Aktif ya saat pertemuan terjadi. Oktober sampai Januari itu kosong tidak ada apa-apa. Seharusnya bisa dimaksimalkan, misalnya dari Indonesia," kata mantan Menteri Luar Negeri RI Marty Natalegawa kepada awak media di Jakarta, Kamis 30 Agustus 2018.
 
"Misalnya soal Semenanjung Korea. Ini kan hal yang krusial. Tidak bisa kalau dibahas cuma dua sampai tiga hari waktu pertemuan itu saja. Harus berkala dibahas," lanjut dia.
 
Pada KTT ASEAN tahun lalu, Menteri Luar Negeri Korea Utara Ri Yong-ho sempat menulis surat kepada Sekretaris Jenderal ASEAN saat itu, agar ASEAN berperan lebih banyak untuk konflik Semenanjung Korea.
 
"Tapi kan tidak ada tanggapan yang jelas. Jadi momen datang dan pergi. Waktu itu adalah segalanya. Tidak bisa cuma beberapa hari, jelas harus berkala," ucap dia.
 
Menurut Marty, Indonesia sangat bisa melakukan pertemuan berkala dengan kerangka EAS untuk membahas berbagai polemik seperti Semenanjung Korea, Rohingya dan Laut China Selatan.
 
"Jika kita ingin berpengaruh ya kita harus mempengaruhi. Misalnya itu ada perang dagang Amerika dan Tiongkok, itu kan bisa dibahas berkala karena negaranya ada di dalam EAS,” pungkas dia.
 
Marty pun berharap agar EAS tahun ini akan lebih aktif ke depannya untuk membahas isu-isu tak hanya saat penyelenggaraan EAS saat itu, tetapi untuk ke depannya.

Tags

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close