Effendi Gazali: Boleh Ekspor Lobster Asalkan…

  • Whatsapp

INDOPOLITIKA.COM – Ketua Komisi Pemangku-Kepentingan dan Konsultasi Publik Kementerian Kelautan dan Perikanan (KP2-KKP) Effendi Gazali mengatakan, berdasarkan data dari badan riset Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), jumlah benih lobster tahun 2017 di perairan Indonesia mencapai 850 miliar. Sangat fantastis. Karena itu, tidak salah bila setengah dari jumlah itu tetap berada di lautan dan setengahnya dibudidayakan.

“Dan 425 miliar benih lobster lainnya bisa digunakan untuk budidaya. Dan ada kontroversi tadi boleh ekspor apa tidak. Kalau kami di KP2 boleh ekspor nanti kalau misalnya pak menteri dengan catatan kita (Indonesia) punya hatcherynya (tempat penetasannya),” ujarnya dalam acara ngobrol publik dengan tema ‘Lobster: Apa Adanya’ di Kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta, Rabu (19/2). Acara ini dihadiri oleh para ahli lobster, asosiasi, dan pembudidaya lobster.

Bacaan Lainnya

Hanya saja, kegiatan budidaya lobster, rajungan dan ketiping tidak dibolehkan. Larangan itu tertuang dalam Permen KKP nomor 56 tahun 2016. Kecuali untuk penelitian dan pengembangan. Akibatnya, bibit lobster di lautan Indonesia tidak bisa dibudidayakan. Kalau dibiarkan begitu saja di alam, bibit lobster itu rentan mati.

“Kalau dibiarkan begitu saja, mati. Satu saja yang hidup dari sepuluh ribu bibit lobster. Di negara lain di budidaya. Misalnya di Vietnam,” katanya.

Di Vietnam, kata dia, budidaya sudah berlangsung selama tiga puluh tahun. Baru-baru ini, tim KP2 melakukan investigasi ke sejumlah tempat pembubidayaan di Vietnam. Disana, dia mendapat informasi bahwa para pelaku budidaya lobster justru belajar cara penetasan lobster di Indonesia.

“Sekarang ini ada 850 miliar benih lobster tapi dibiarin, nggak diapa-apain. Padahal 450 miliar benih lobster itu harusnya bisa dibudidayakan. Kalau nggak ya sebagian di ekspor. Dengan catatan ada hatcherynya (tempat penetasannya). Kan kalau di ekspor resmi dari negara, pakai hologram, dan dibeli resmi dari sana (Singapura) mereka juga mau. Sekarang mereka resmi dari negara. Penyelundup kita jualnya ke Singapura. Ada sepuluh agen di Singapura,” katanya. [rif]

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *