Internasional

Etnis Rohingya Inginkan Martabat dan Identitas

Pengungsi Rohingya yang berada di Bangladesh (Foto: AFP).

Cox’s Bazar: Mengunjungi pengungsi yang tinggal di kamp Bazar Cox, Bangladesh, Wakil Presiden Bank Dunia untuk Wilayah Asia Selatan, Hartwig Schafer, mengatakan bahwa warga Rohingya menginginkan identitas dan martabat.

“Apa yang saya saksikan adalah tragedi kemanusiaan,” kata Schafer, seperti dikutip dari Daily Star, Rabu 26 September 2018.

Ia mengunjungi kamp-kamp Rohingya pada Senin dan Selasa, berkata dalam pesan video dari kamp Kutupalong, kamp pengungsi terbesar di dunia.

Dia katakan Bangladesh membuka perbatasannya untuk orang Rohingya yang datang tanpa membawa apa-apa, dan meninggalkan rumah-rumah mereka di seberang perbatasan.

“Mereka menginginkan harga diri. Mereka menghendaki sebuah identitas. Mereka sangat tangguh. Mereka sudah memulai bisnis kecil-kecilan,” kata Schafer dalam pesannya.

Ditambahkan, etnis Rohingya ingin anak-anak mereka menempuh pendidikan di sekolah, dan memastikan mereka mendapatkan perawatan kesehatan yang baik. “Saya berharap ada masa depan yang lebih cerah bagi mereka,” ujar dia.

Schafer pun memberikan penghargaan kepada rakyat dan pemerintah Bangladesh karena melindungi Rohingya. Dikatakannya, Bank Dunia telah menyediakan lebih dari USD480 juta guna mendukung Bangladesh membantu pengungsi dengan biaya untuk melayani orang-orang ini.

Terlepas dari tantangannya sendiri, Bangladesh menunjukkan kemurahan hati yang besar dengan melindungi hampir satu juta orang Rohingya, kata Schafer dalam pesan sebelumnya.

“Bank Dunia bekerja erat dengan pemerintah Bangladesh untuk membantu memenuhi kebutuhan Rohingya sampai mereka kembali dengan selamat ke Myanmar dan membantu membangun kapasitas negara untuk menghadapi krisis,” cetusnya.

Bank Dunia sudah menyetujui dua operasi, dengan total sekitar USD75 juta dalam bentuk hibah, demi menyediakan layanan kesehatan dan pendidikan bagi pengungsi Rohingya, banyak di antaranya adalah anak-anak, pemuda atau wanita.

“Bangladesh memiliki kisah luar biasa dalam memutus rantai kemiskinan ekstrem dalam waktu singkat. Negara-negara lain dapat belajar banyak dari inovasi dan keberhasilan pembangunan Bangladesh. Saya berharap dapat bertemu dengan mitra kami dan melihat langsung perjalanan negara ini menuju ke pertumbuhan ekonomi,” pungkas Schafer.

Tags

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close