Internasional

Evakuasi Paksa di Kamboja Usai Robohnya Bendungan Laos

Warga yang menyelamatkan diri dari bendungan yang roboh di Laos (Foto: AFP)

Attapeu: Meluapnya aliran air di sebuah bendungan Laos yang mematikan telah tercurah ke Kamboja. Akibatnya memaksa ribuan orang harus dievakuasi, saat tim penyelamat pada Kamis 26 Juli berkutat di bawah hujan lebat buat menemukan sejumlah warga Laos yang masih hilang setelah seluruh desa hanyut.
 
Dua puluh tujuh orang sudah dikonfirmasi tewas. Sebanyak 131 masih hilang, setelah bendungan Xe-Namnoy ambruk, Senin, di sudut selatan terpencil Laos. Musibah ini menyisakan warga desa hanya sedikit waktu untuk melarikan diri.
 
Marabahaya ini tidak pernah terjadi sebelumnya, menyerang industri tenaga air di Laos, di mana pemerintah telah membendung sebagian besar saluran airnya demi menghasilkan listrik yang kebanyakan dikonsumsi oleh negara-negara tetangganya.
 
Upaya pencarian dan penyelamatan memasuki hari ketiga Kamis, di mana Tiongkok, Vietnam, dan Thailand mengirim spesialis. Sementara penduduk desa memilih kembali ke puing-puing rumah mereka, berlumpur lumpur, ketika air banjir surut.
 
Bangkai ternak hanyut di perairan setinggi lutut di sebuah desa hancur yang dikunjungi AFP.
 
Ribuan penduduk desa di kawasan hilir Kamboja juga terpaksa mengungsi karena air yang pernah ditahan oleh bendungan itu mengalir ke selatan.
 
"Air masih naik, jadi lebih banyak orang akan dievakuasi," kata Men Kong, juru bicara pemerintah di provinsi Stung Streng, Kamboja, kepada AFP, Kamis 26 Juli 2018.
 
Di Laos, tim penyelamat Tiongkok yang memakai jaket pelampung dan helm bergabung dengan tentara setempat, Kamis, untuk mencari korban yang hilang, menurut wartawan AFP di lokasi kejadian. Sedangkan relawan masyarakat menggunakan perahu pribadi kembali ke desa yang masih terendam total.
 
Penduduk mengenang teror tatkala air mengalir mengguyur rumah mereka. Tran Van Bien, 47, asal desa Ban Mai dekat bendungan yang rusak, mengatakan dia diberitahu supaya mengungsi hanya dua jam sebelum bendungan itu jebol, pada Senin malam. Berlari ke rumah tetangga dengan keluarganya karena rumahnya cepat dipenuhi air.
 
"Kami berada di atap rumah itu sepanjang malam, dingin dan takut. Pada pukul 4 pagi sebuah kapal kayu lewat dan kami memutuskan untuk mengirim istri dan anak saya keluar," katanya kepada AFP dari sebuah desa di dekatnya di mana dia akhirnya menemukan tanah kering.
 
"Istri saya mengikat anak kami ke tubuhnya, mengatakan jika mereka meninggal, mereka akan mati bersama daripada sendirian," cetus dia, seperti dikutip dari Channel News Asia, Kamis 26 Juli 2018.
 
Bendungan Xe-Namnoy senilai USD1,2 miliar, didirikan perusahaan patungan antara Laos, Thailand, dan Korea, masih dalam pembangunan di provinsi Attapeu selatan ketika runtuh akibat hujan deras turun ke daerah itu, awal pekan ini.
 
Dua perusahaan Korea Selatan yang terlibat dalam konstruksi dan operasi proyek mengatakan kerusakan dilaporkan sehari sebelum bendungan "Saddle D" runtuh.
 
Namun lini waktu dari operator Korea Western Power Co. yang diperoleh AFP berbunyi: penurunan 11 cm terlihat di pusat bendungan pada dini hari Jumat.
 
Perusahaan itu mengatakan kepada AFP bahwa pihaknya belum dapat menentukan penyebab keruntuhan.
 
Laos Tenggara secara teratur dilanda hujan lebat, dan operator bendungan melepaskan air dari waduk guna menghindari meluap atau runtuh.
 
Proyek 410 MW Xe-Namnoy salah satu dari lebih dari 50 rencana pembangkit listrik tenaga air yang sedang berlangsung di Laos. Negara ini menyebut dirinya sebagai "Baterai Asia" dalam upaya ambisiusnya menjadi eksportir daya utama di kawasan tersebut.
 
Laos menyatakan ingin menggandakan kapasitas pembangkit listrik menjadi 28.000 MW pada 2020 dan telah membuka pintunya bagi investor asing — terutama dari Tiongkok, Thailand, dan Vietnam — demi membangun bendungan di jaringan sungai yang luas.
 
Tetapi berbagai proyek sudah mendapat kecaman dari sejumlah kelompok hak asasi manusia yang mengatakan bahwa masyarakat setempat dipaksa pindah dan kehilangan akses penting ke perairan sungai guna bertani dan memancing.
 
"Tragedi ini telah memperparah penderitaan mereka," kata International Rivers dalam sebuah pernyataan, Kamis.
 
"Masyarakat tidak diberikan peringatan lanjutan yang memadai demi memastikan keselamatan diri dan keluarga mereka. Kejadian ini menimbulkan pertanyaan besar tentang standar bendungan dan keamanan bendungan di Laos," pungkas pernyataan.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close