Fadli Zon – Aziz Yanuar – Rizieq Dkk Berpotensi Kena Pasal Terorisme Ikuti Munarman

  • Whatsapp

INDOPOLITIKA.COM – Bagi orang yang paham proses hukum tidak mungkin akan mengeluarkan pernyataan yang mendahului proses hukum itu sendiri. Tetapi bagi Fadli Zon, Aziz Yanuar dan orang-orang yang berada dilingkaran mereka, mengeluarkan pernyataan yang mendahului hasil dari proses hukum sepertinya sudah menjadi kebiasaan dan tak ada rasa takut sedikitpun kalau pernyataannya akan menjadi masalah kedepannya.

Seperti yang terjadi baru-baru ini, pasca Munarman ditangkap Densus 88 Antiteror Polri, karena diduga terlibat terorisme, orang seperti Fadli Zon bukannya mendukung penangkapan itu, malah langsung menyerang polisi dengan mengatakan penangkapan Munarman hanya mengada-ngada dan kurang kerjaan. Ia sedikitpun tidak percaya jika Munarman terlibat terorisme. Intinya, Fadli Zon ingin Munarman dibebaskan.

Berita Lainnya

Demikian juga dengan Yanuar Aziz, Tim Kuasa Hukum FPI dan Pengacara Habib Rizieq ini membantah FPI menyimpan bahan peledak di markasnya. Padahal jelas Densus 88 menemukan bahan itu saat melakukan penggeledahan. Sebagai informasi, pasca Densus 88 menangkap Munarman, mereka langsung melakukan penggeledahan Markas FPI di Jalan Petamburan III, Jakarta Pusat, Selasa (27/4/2021). Saat penggeledahan tersebut, Polri menemukan bahan-bahan peledak.

Yanuar Aziz membantah dengan mengatakan apa yang ditemukan Densus 88 itu bukan bahan peledak melainkan bahan pembersih WC untuk program bersih-bersih WC masjid. Tidak hanya itu, Aziz Yanuar juga menyebut penangkapan Munarman berlebihan dan melanggar HAM.

Lalu bagaimana bantahan kedua orang itu setelah bukti-bukti yang dikumpulkan dikaji oleh Polri? Pada hari Jumat 30 April 2021 kemarin, pihak Polri mengkonfirmasi bahwa temuan bubuk putih di bekas markas FPI itu adalah benar-benar bahan peledak, bukan pembersih toilet.

Kepala Bagian Penerangan Umum (Kabagpenum) Polri, Kombes Pol Ahmad Ramadhan, menjelaskan bahwa berdasarkan hasil identifikasi tim Puslabfor menyimpulkan bahwa barang yang ditemukan adalah bahan kimia yang berpotensi digunakan sebagai bahan baku pembuatan bahan peledak TATP.

Menurutnya, bahan kimia itu disebut dapat digunakan sebagai bahan pembuatan bom molotov hingga bahan baku peledak TNT. Ramadhan juga mengungkap akal-akalan ngeles yang dilakukan oleh Aziz Yanuar. Ia mengakui memang ada diantaranya pembersih toilet, tetapi bukan semua barang yang ditemukan pembersih toilet.

Lalu setelah bukti-bukti terungkap, orang seperti Fadli Zon, Aziz Yanuar dan gerombolannya yang sama-sama teriak penangkapan Munarman melanggar HAM dan temuan bahan peledak itu mengada-ngada harus dibebaskan begitu saja? Tentu tidak segampang itu. Di negara hukum, apapun tindakan seseorang harus dipertanggungjawabkan.

Apalagi pernyataan Fadli Zon dan Aziz Yanuar jelas-jelas terkesan tidak hanya untuk menggiring opini publik agar Polri membebaskan Munarman tetapi juga menentang proses hukum. Satu lagi yang paling kentara adalah ingin menutupi keterlibatan Munarman terlibat aksi terorisme. Poin ketiga inilah yang paling fatal bagi seseorang dapat terkena hukuman sama beratnya dengan Munarman.

Untuk membuktikannya, mari kita lihat Pasal 14 juncto pasal 7 dan/atau pasal 15 juncto pasal 7, Undang Undang Nomor 5 Tahun 2018 tentang Tindak Pidana Terorisme. Pasal 14 itu tentang menggerakkan orang lain untuk melakukan Tindak Pidana Terorisme. Sedangkan Pasal 15 tentang melakukan permufakatan jahat, persiapan, percobaan, atau pembantuan untuk melakukan Tindak Pidana Terorisme. Kedua pasal ini memiliki ancaman pidana penjara seumur hidup. Jadi kalau kena dua-duanya ya 2 kali seumur hidup.

Memangya Fadli Zon dan Aziz Yanuar ikut terlibat dalam pemufakatan jahat bersama Munarman? Jawabannya memang terlalu dini, tetapi dengan pernyataan keduanya yang terkesan menutupi adanya bahan peledak di Markas FPI bukan tidak mungkin jika keduanya diproses akan ditemukan bukti-bukti lainnya yang dapat menguatkan keterlibatan keduanya dengan Munarman.

Bahkan bukan hanya Fadli Zon dan Aziz Yanuar, tetapi Habib Rizieq yang sekarang sedang mendekam dalam penjara bisa ikut terkena pasal terorisme. Kok bisa begitu? Bahan peledak itu ditemukan di Markas Besar FPI, Habib Rizieq adalah mantan Imam Besar FPI sebelum dibubarkan. Jadi wajarlah jika dirinya juga diproses terkait pasal ini. Jika nanti terbukti, tambah apeslah hidup dia ini, sudah terkena tiga pasal, nambah pula pasal terorisme. Tambah berat saja hukumannya. [fed]

 

Berita Terkait


INDOPOLITIKA TV

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *