PSI

Ferry Batara: Perbudakan Era Modern dan Perdagangan Manusia Harus Dilawan

Peringatan Hari Perdagangan serta Penghapusan Perbudakan (International Day for the Remembrance of the Slave Trade and its Abolition), yang diperingati setiap tanggal 23 Agustus patut diingat dan direnungkan oleh masyarakat internasional. Agar tidak lagi muncul praktik perbudakan ataupun perdagangan manusia di era modern.

Hal itu disampaikan oleh Bacaleg Dapil Jawa Barat (Jabar) VI dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Ferry Batara. Menurutnya, praktik perbudakan manusia yang pernah terjadi selama beberapa abad silam, harus diingat sebagai sejarah kelam yang patut dikecam.

“Praktik perbudakan manusia dahulu sangatlah biadab. Sungguh tak terbayang, orang diperjualbelikan dan disiksa seenaknya layaknya hewan, itu sungguh tak manusiawi, karena itu kita semua harus mengecamnya,” papar Ferry Batara saat dimintai pendapatnya tentang Hari Perdagangan serta Penghapusan Perbudakan Internasional, di Beji, Kota Depok, Kamis (23/08).

Ketua DPD PSI Kota Depok ini melanjutkan, meski praktik perbudakan dan perdagangan manusia sudah dilarang, tidak berarti saat ini aksi kejahatan itu seutuhnya hilang. Masih banyak orang yang dengan sengaja, menyiksa dan memperjualbelikan manusia demi pundi-pundi uang.

“Saya merasa sedih setiap mendengar kabar masih adanya praktik perbudakan dan perdagangan manusia. Padahal dunia sudah mengecamnya,” urai Ferry.

Ferry menjelaskan dunia harus berduka, karena berdasarkan laporan dari Organisasi Pekerja Internasional (ILO) dan Organisasi Nirlaba Walk Free Foundation, lebih dari 40 juta orang di dunia diperkirakan menjadi korban perbudakan modern. Mirisnya, satu di antara empat korban adalah anak-anak. 25 juta jiwa bekerja paksa-dibawah ancaman atau paksaan-dan 15 juta orang lainnya menikah secara terpaksa. Kemudian, 71 persen korban perbudakan adalah perempuan dan anak-anak, termasuk mereka yang bekerja di industri seks dan korban pernikahan paksa.

Tahun 2018 ini, yang paling menyayat hati Ferry adalah kisah Sara, WNI yang jadi korban perbudakan di Inggris. Dia dipaksa bekerja selama 20 jam per hari. Kisah yang dialami Sara ini menurut Ferry adalah gambaran tentang masih adanya praktik kejahatan perbudakan manusia di era modern.

Menurut Ferry, persoalan tersebut harus menjadi perhatian seluruh dunia. Khususnya untuk pemerintah Indonesia agar betul-betul memperhatikan, sehingga tidak lagi ada WNI yang jadi korban perbudakan atau perdagangan.

“Semua pemangku kebijakan harus berkomitmen untuk memberantas perdagangan anak dan perempuan di Indonesia. Karena perdagangan manusia telah merampok hak-hak korban sebagai manusia, oleh sebab itu tugas semua pihak untuk melawannya,” jelas Ferry.

Ferry menambahkan, tidak hanya pemerintah, kalangan agamawan dan pendidik juga harus mulai memberikan perhatian terhadap isu ini. Karena secara kultur paling dekat bersentuhan dengan warga.

“Bahaya trafficking harus pula menjadi perhatian para pemuka agama ataupun para guru-guru di sekolah. Mereka harus memberikan kesadaran bahwa human trafficking tidak bisa ditolerir,” pungkas Ferry. (ind)

Tags

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close