Gegara Utang Dua Perempuan Asal Palu Sulteng Disandera Di Jember Jawa Timur

  • Whatsapp
Kapolres Jember Ajun Komisaris Besar Alfian Nurrizal saat membebaskan dua warga Palu Sulawesi Tengah, Erfawati (53) dan Nur Ipah (52).

INDOPOLITIKA.COM- Dua perempuan warga Palu Sulawesi Tengah jadi korban penyanderaan di Jember, Jawa Timur. Kedua warga Palu yang disandera itu adalah;  Erfawati (53) dan Nur Ipah (52).

Kapolres Jember Ajun Komisaris Besar Alfian Nurrizal mengungkapkan keduanya disandera gara-gara persoalan utang Rp 230 juta. “Korban disandera selama enam hari. Tadi sore berhasil kita bebaskan. Terduga pelaku kita amankan dan sekarang masih kita mintai keterangan,” kata Alfian Nurrizal, Minggu (3/11/2019).

Baca Juga:

Terduga pelaku yang ditangkap adalah; Karmawi (53), warga Desa Sisipan, Kecamatan Batui, Kabupaten Banggai dan M Ali (56), warga Dusun Loncatan, Desa Mangaran, Kecamatan Ajung, Jember. “Lokasi penyanderaan di rumah M Ali,” kata Alfian.

Alfian menceritakan, latar kasus penyanderaan tersebut. Bermula saat Erfawati melakukan bisnis jual beli beras dengan Karnawi pada Mei lalu. Beras itu rencananya akan dijual kepada korban gempa Palu. “Ternyata harga beras yang hendak dijual itu terlalu mahal. Sehingga akhirnya beras itu dijual murah. Kasarnya dijual rugi lah,” kata Alfian.

Akibat kerugian itu, Erfawati dibebani tanggungan sebesar Rp 230 juta. Karena masih belum bisa melakukan pembayaran, Karnawi kemudian meminta bantuan M Ali. “M Ali ini menghubungi Erfawati dan akan dibantu persoalan uang yang dianggap utang-piutang itu,” kata Alfian.

Karena percaya Erfawati setuju. Bersama temannya, Nur Ipah, Erfawati berangkat ke Jember pada 28 Oktober lalu. Keduanya dijemput di Bandara Juanda Surabaya oleh M Ali. Selanjutnya, Erfawati dan Nur Ipah dibawa ke rumah M Ali. Ternyata di rumah itu sudah ada Karnawi.

“Di situlah korban diminta melunasi utangnya. Jika tidak, korban tidak bisa pulang,” terang Alfian.

Menurut Alfian, korban sebenarnya sudah beritikad baik hendak membayar tanggungan itu. Korban meminta waktu untuk menjual tanah yang ada di Jakarta. “Tapi oleh M Ali korban tidak boleh keluar rumah sampai urusan utang itu selesai,” jelas Alfian.

Kedua korban terpaksa mendekam di dalam rumah M Ali selama 6 hari. Meski begitu, kata Alfian, keduanya tidak mengalami kekerasan secara fisik. “Pengakuan keduanya tidak ada kekerasan secara fisik. Hanya sesekali dibentak-bentak supaya keduanya ini segera bayar tanggungannya,” kata Alfian.

Polisi berhasil membebaskan keduanya setelah mendapat informasi dari masyarakat. Alfian memimpin langsung proses pembebasan korban penyanderaan itu. Polisi masih menyelidiki hubungan antara M Ali dan Karnawi.

“Kita belum tahu apakah M Ali dan Karnawi ini saudara atau hanya teman. Ini masih kita selidiki,” ujar Alfian.

Yang jelas, kata dia, persoalan tanggungan Rp 230 juta hanya antara Erfawati dan Karnawi. “M Ali dan Karnawi masih kita mintai keterangan secara intensif,” pungkas Alfian.[sgh]

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *