Internasional

Gencatan Senjata Akhiri Bentrokan di Libya

Bandara Mitiga di Libya yang ditutup sejak 31 Agustus 2018 karena bentrokan. (Foto: AFP)

Tripoli: Misi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Libya mengatakan, kesepakatan gencatan senjata disetujui untuk mengakhiri bentrokan di ibu kota Tripoli yang menewaskan sedikitnya 50 orang dan melukai 138 lainnya. 

"Di bawah naungan perwakilan PBB Ghassan Salame, kesepakatan gencatan senjata dicapai dan ditandatangani hari ini untuk mengakhiri semua permusuhan dan perlindungan bagi warga sipil," kata misi PBB di Libya dalam sebuah pernyataan, dikutip dari AFP, Rabu 5 September 2018.

Kesepakatan ini, selain dihadiri Misi PBB di Libya, juga diikuti oleh sejumlah perwira militer, pemimpin berbagai kelompok bersenjata, perwakilan pemerintah Libya yang didukung PBB dan menteri dalam negeri Libya. 

Pertempuran di Tripoli berhenti pada sore hari kemarin, namun tidak jelas apakah semua kelompok yang terlibat akan menghormati kesepakatan tersebut.

Pekan lalu, disepakati gencatan senjata serupa, tetapi hanya berlaku selama beberapa jam.

Misi PBB di Libya menambagkan, kesepakatan gencatan senjata ini juga memfasilitasi pembukaan kembali Bandara Mitiga, satu-satunya bandara yang berfungsi di ibu kota yang telah ditutup sejak 31 Agustus lalu karena bentrokan.

Pertempuran terbaru meletus sehari setelah sedikitnya 15 roket mendarat di Tripoli dan sekitarnya. Serangan memicu penundaan penerbangan di Bandara Mitiga. 

Pertempuran antara sejumlah kelompok bersenjata di Libya pecah awal pekan ini. Pertempuran pada Senin dan Selasa pekan lalu terjadi antara Brigade Ketujuh, atau Kaniyat, dengan Brigade Revolusi Tripoli (TRB) dan Nawasi, dua faksi terbesar di Tripoli.

Bentrokan juga memaksa ribuan orang melarikan diri ke kota-kota terdekat atau mencari perlindungan di distrik-distrik lain. Kendati demikian, tak sedikit yang masih terperangkap di dalam rumah mereka sendiri. 

Amerika Serikat (AS), Prancis, Italia dan Inggris kompak mengutuk kekerasan yang eskalasinya semakin meningkat ini dan memperingatkan bahwa kelompok-kelompok bersenjata yang merusak stabilitas Libya harus bertanggungjawab.

Tags

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close