Gerakan Mahasiswa Yang Mengagetkan Kita

  • Whatsapp
Direktur Utama Konsepindo Research and Consulting Veri Muhlis Arifuzzaman

Kaget Juga.

Sebagai pressure group, para demonstran telah berhasil membuat presiden menunda pengesahan beberapa rancangan UU yang kontroversial. Hanya satu permintaan para mahasiswa yang diabaikan: PERPPU UU KPK. Presiden dan para elite lebih menganjurkan mahasiswa dan siapapun yang berkeberatan dengan revisi UU KPK untuk mengajukan judicial review ke Mahkamah Konstitusi (MK).

Bacaan Lainnya

Turunnya mahasiswa di seluruh Indonesia memang mengagetkan. Sebagai aktivis mahasiswa di era 1990-an, saya hapal betul: amat tak mudah mengkoordinasi gerakan setingkat nasional dan menyamakan tuntutan.

Secara pribadi saya menduga, gerakan massif itu muncul karena proses kilat pembahasan revisi UU KPK oleh DPR dan pemerintah yang menyebalkan! Itu karena hanya dalam waktu 11 hari sejak pengajuan draf hingga disahkan DPR. Padahal sejatinya presiden punya waktu 60 hari dalam proses pembahasan UU KPK.

Belum lagi, soal narasi yang kukuh dan keras bahwa pemerintah dan DPR ingin menguatkan KPK. Sebaliknya, sejumlah poin revisi dinilai akan melemahkan kinerja KPK. Padahal KPK adalah anak kandung reformasi yang dihasilkan dari keinginan panjang gerakan reformasi 98: memberantas KKN (Korupsi, Kolusi & Nepotisme).

Secara pribadi sekali lagi saya kaget juga dengan massifnya demonstrasi mahasiswa itu. Anak-anak milenial yang dianggap kutu gawai ternyata bisa kompak, terorganisir dan peduli serta mau membangun sejarahnya sendiri.

Jangan Sinis.

Jangan sinislah sama gerakan mahasiswa itu apalagi sampai merendahkan bahwa mereka dikendalikan dan seperti tak tahu apa-apa. Dibilang memukul angin, membentur tembok apalagi sampai dianggap seperti kerbau dicocok hidung. Mereka itu pintar-pintar dan punya pendirian. Lihatlah bagaimana ketua BEM UGM bicara, argumennya luar biasa. Jangan sombonglah, merendahkan pihak lain, apalagi merendahkan gerakan mahasiswa 19.

Saya kira simpati dan empati pada mereka adalah niscaya. Negara ini masih ada yang jaga. Bukan pendukung salah satu capres. Bukan kelompok yang menang atau kalah pilpres. Bukan pula kelompok yang kehilangan akses atas sumber daya dan kekuasaan. Mahasiswa ya anak-anak muda generasi mendatang yang punya cita-cita idealnya sendiri. Mereka mencerna, mendalami dan bereaksi atas situasi yang terjadi. Saya termasuk yang amat yakin, gerakan mahasiswa ini merupakan gerakan murni karena sebal dengan kaum elite yang bertingkah seolah pemilik saham negara ini.

Sementara jikapun ada para penunggang; kalaupun ada pihak yang memanfaatkan gerakan mahasiswa untuk kepentingan politiknya; seandainya ada penumpang gelap, pasti amat mudah mengetahuinya. Pagi-pagi sekali kita sudah tahu kelompok itu memang ada dan segera kita kecam.

Di dunia maya segera bisa diketahui rekam jejak mereka. Di dunia nyata, saat mereka hadir dalam barisan demonstrasi segera terlihat siapa dan dimana mereka. Mungkin orang-orang gelap yang menumpang itu mau Jokowi tidak dilantik, tapi itu mimpi di siang bolong! Mahasiswa tegas sedari awal hanya menggugat soal Revisi UU KPK dan rencana pengesahan beberapa RUU kontoversial menjadi UU.

Bagaiman Akhirnya?

Bagaimana akhir gerakan mahasiswa ini, saya belum bisa menduga-duga. Apakah akan terus bertahan di jalan atau kembali ke kampus dan berjuang di jalur konstitusi, misalnya mengikuti JR di MK. Saya berpendapat, sekecil apapun gerakan mahasiswa sepanjang dilakukan dengan niat untuk membenahi bangsa, jelas merupakan kontribusi yang baik.

Setidaknya kita masih memiliki generasi yang akan menjaga negara untuk tidak kembali jatuh ke tangan segelintir orang dan kelompok yang menghisap dan memeras sumber daya untuk kepentingan pribadi dan golongannya. Negara dikawal agar tak lagi jatuh ke era orde baru yang penuh KKN.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *