Gerindra Sindir PDIP dan Golkar Yang Kritisi Anggaran Rehab Rumah Dinas Gubernur DKI

  • Whatsapp
Partai Gerindra

INDOPOLITIKA.COM – Kritik keras yang disampaikan PDIP dan Golkar terkait dengan anggaran rehab rumah dinas gubernur ditanggapi keras partai pendukung Anies di pilkada lalu, Gerindra.

Lewat wakil ketua fraksinya di DPRD DKI, Andika. Gerindra menuding PDIP dan Golkar tidak mengerti persoalan, karena anggaran perbaikan rumah dinas merupakan keharusan yang perlu dipenuhi karena untuk menjaga cagar budaya.

Baca Juga:

“Yang harus difahami oleh PDIP dan Golkar itu, rumah dinas gubernur adalah cagar budaya tipe B. Kedua, rumah dinas itu bukan rumah pribadi. Ketiga, siapa pun gubernurnya nanti akan menempati rumah tersebut. Jadi kalau ada yang mempersoalkan renovasi rumah dinas, itu tidak mengerti persoalan,” ujar Andika kepada awak media, Minggu (13/10).

Rumah dinas gubernur berada di seberang salah satu sudut Taman Suropati, Menteng, Jakarta Pusat. Rumah bernomor 7 yang dibangun sejak 1939 itu adalah rumah dinas Gubernur DKI Jakarta.

Gubernur yang pernah tinggal di sana semasa menjabat adalah Sutiyoso (1997-2007), Fauzi Bowo (2007-2012), hingga Joko Widodo (2012-2014) yang kini jadi presiden.

Sementara. era gubernur Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok lebih memilih tinggal di rumah pribadinya di Pluit, Jakarta Utara. Begitu pun dengan Anies Baswedan, Gubernur DKI sekarang, yang lebih memilih tinggal di rumah pribadi di kawasan Lebak Bulus, Jakarta Selatan.

Tahun lalu rumah itu hendak direnovasi. Anggarannya sudah disiapkan dalam ABPD DKI 2018. Rencana tersebut segera memicu kontroversi karena jumlah anggarannya dianggap terlalu besar. Uang yang dialokasikan sebanyak Rp 2,34 miliar, Rp750 juta di antaranya dipakai untuk membikin lift. Rencana tersebut akhirnya tidak terealisasi.

Kini rumah itu kembali disorot karena alasan yang sama. Dalam Kebijakan Umum Anggaran-Prioritas Plafon Anggaran Sementara (KUA-PPAS) 2020, ada duit Rp2,4 miliar dialokasikan untuk merenovasi rumah dinas.

“Posisi rumah dinas itu kan di wilayah elit di Menteng. Pastinya untuk melakukan renovasi akan mahal dong biayanya. Dan terpwnting lagi, cagar budaya memerlukan perawatan, karena sejak 5 tahun tidak mengalami perawatan. Tentunya kondisi pun sangat terpengaruh, khususnya pada bagian plafon,” tukasnya.[ab]

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *