Gubernur Sumsel: Ah Ridwan Saidi Cuma Cari Sensasi Aja Itu…

  • Whatsapp
Gubernur Sumsel Herman Deru

INDOPOLITIKA- Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru meminta warga untuk tidak terlalu menanggapi pernyataan Ridwan Saidi budayawan asal Betawi yang menyebutkan Kerajaan Sriwijaya adalah fiktif. Sebab, menurut Herman, banyak bukti sejarah dan peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang sampai sekarang ditemukan oleh para arkelog.

Herman menjelaskan, Kerajaan Sriwijaya tidak seketika muncul. Sebab, banyak kajian serta penelitian yang dilakukan para arkeolog untuk memastikan hal tersebut. Peninggalan prasasti, penemuan Megalith yang ada di Sumatera Selatan pun telah dibuktikan para arkelog tentang adanya keberadaan kerajaan Sriwijaya.

Baca Juga:

“Para ahli, arkelog sudah turun dan memang Sriwijaya itu ada. Itu cuma cari sensasi saja,” kata Herman, Rabu (28/8/2019).

Sampai saat ini, cerita sejarah keberadaan Sriwijaya yang berdiri pada abad ke-7 tersebut masih dipercayai para peneliti dunia. Herman menduga, pernyataan yang disampaikan oleh Ridwan hanya sebatas pendapat pribadi dan tak perlu ditanggapi secara serius.

“Kita percaya bahwa Kerajaan Sriwijaya itu ada dan ketilasannya itu banyak dari bukti sejarah. Mungkin itu hanya pendapat pribadi saja,”jelasnya.

Diberitakan sebelumnya, Yayasan Tandi Pulau yang berisi para budayawan di Sumatera Selatan akan menempuh jalur hukum terkait pernyataan Ridwan Saidi yang menyebutkan kerajaan Sriwijaya fiktif dalam unggahan video dikanal Youtube “Macan Idealis”.

Ketua Yayasan Tandi Pulau Erwan Suryanegara mengatakan, setelah mereka melihat tayangan YouTube yang disebarkan pada 23 Agustus 2019 tersebut, ada dugaan unsur kesengajaan dari pihak pengelola akun untuk mendapati pundi-pundi rupiah dengan menyebarkan video itu.

Pengunggah video, menurut Erwan, ingin mendapatkan viewer tinggi serta subscriber yang banyak dengan membuat pernyataan kontroversial tentang kerajaan Sriwijaya.

“Karena ini ada kejahatan digolongkan ITE, karena ada menyebarkan berita bohong, hoaks,yang tanpa data-data ilmiah, data valid. Kita lihat ada celah ke sana, tentunya dengan ke ranah hukum, tujuan kita adalah agar video yang tidak benar itu nanti dihapus oleh pihak YouTube,” kata Erwan usai menggelar rapat bersama Dinas Kebudayaan Palembang, Selasa (27/8/2019).[sgh]

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *