Gus Dur Melawan Oligarki yang Tak Pernah Usai

  • Whatsapp
Pelantikan dan Pembacaan sumpah oleh Presiden Abdurrahman Wahid (Foto. Alliance/dpa/Oka.Budhi)

INDOPOLITIKA.COM – Saya tak pernah menyangka akan dapat menuliskan sekeping potongan sejarah yang sangat penting dalam sejarah Indonesia yaitu pelengseran Gus Dur. Bahkan, saya juga tak pernah mengira akan mendapatkan pengantar dari Greg Barton.

Hal yang lebih mengagetkan bahwa buku ini habis dalam masa pra-pemesanan. Tak hanya itu, setelah sebuah diskusi dengan 164 Channel, banyak yang memberikan semangat dan dukungan melalui media sosial—meski kami tak saling kenal. Saya merasa bahwa kami dipersatukan oleh rasa hormat dan kekaguman pada Gus Dur. Meski, saya sebenarnya tak begitu Nahdlatul Ulama (NU) banget.

Bacaan Lainnya

Musababnya, dalam teori keilmuan sejarah, biasanya riset dilakukan karena dua faktor; kedekatan emosional atau kedekekatan intelektual. Saya lebih dekat pada poin yang kedua. Tulisan ini merupakan sebuah artikel rilis dari buku saya. Kali ini saya tak menyebut inisial seperti tulisan-tulisan sebelumnya.

Sebagai presiden di masa transisi, Gus Dur memiliki tugas yang amat berat. Ia harus memenuhi tuntutan reformasi yang ingin diadakannya penuntutan dan pembersihan rezim lama. Celakanya, anasir Orde Baru begitu menggurita di segala sendi kehidupan.

Dengan kata lain, kekuatan Orde Baru masih teramat kuat. Sedangkan, konsolidasi kekuatan baru belum mencapai titik temu. Akibatnya, posisi Gus Dur menjadi sulit, karena Gus Dur tak memiliki modal politik yang cukup kuat. Gus Dur terpilih karena adanya koalisi Poros Tengah yang digagas Amien Rais dan Partai Golkar.

Kenapa mereka mendukung Gus Dur? Mereka berpikir akan dengan mudah menyetir Gus Dur. Poros Tengah punya kepentingan membawa semangat sektarian Islam, yang sebagian faksi kecewa dengan dicopotnya Habibie sebagai presiden. Sebab, Habibie dianggap sebagai representasi Islam karena keterlibatannya sebagai Presidium Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI).

Sedangkan Partai Golkar mendukung Gus Dur karena tak punya pilihan lain. Dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), mereka punya perselisihan sejarah yang terjadi selama Soeharto berkuasa. Jika maju sendiri mencalonkan diri sebagai presiden, Golkar tak berani karena elemen reformasi ingin membubarkan Golkar. Maka, dengan hanya mendukung Gus Dur, mereka berharap.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *