Hadiri Konferensi Pertahanan Siber, Yanuar Nugroho Tekankan Kolabarasi Multisektor Pemerintah

  • Whatsapp

KUALA LUMPUR – Di era ekonomi digital ini, perkembangan teknologi khususnya teknologi informasi tidak saja membawa kemajuan, tetapi juga membawa banyak tantangan, melampaui (beyond) sekedar tantangan teknis. Kemajuan teknologi membuat ekonomi berkembang pesat, pemerintah makin terbuka dan efisien, manusia saling terhubung. Namun, hal ini juga membawa problematika tentang keamanan, dampak sosio-politis, dan konsekuensi-konsekuensi lainnya.

Berita Lainnya

Pernyataan itu disampaikan Deputi II Kepala Staf Kepresidenan Yanuar Nugroho saat menjadi pembicara kunci dalam Konferensi Pertahanan Siber Tahunan yang digelar Asosiasi Internasional Profesional Anti-Terorisme dan Keamanan (IACSP) di Kuala Lumpur, Malaysia, 18 – 19 Juni 2019.

Konferensi Pertahanan Siber IACSP 2019 mengambil tema ‘Cyberspace dan Ancaman terhadap Keamanan Nasional’ dibuka oleh Wakil Perdana Menteri Malaysia, Dato ’Seri Dr. Wan Azizah Bt Wan Ismail.yn3

Menurut Yanuar Nugroho,  Konferensi Cyberdefense ini menjadi ajang penting untuk secara spesifik membicarakan keamanan-siber, ancaman-ancaman siber, serta dampak-dampaknya dan bagaimana mengatasinya.

“Di zaman yang makin maju ini, pemerintah tidak bisa, tidak akan pernah bisa, dan memang tidak mungkin, bekerja sendirian. Apalagi untuk menjawab tantangan tantangan zaman yang dibawa oleh kemajuan teknologi. Partnership (kemitraan) dan kolaborasi menjadi kata kunci,” kata Yanuar.

Menurut doktor inovasi teknologi dan perubahan sosial, dari Manchester Business School ini, pemerintah harus bekerjasama dengan sektor swasta, akademisi, media, lembaga non-pemerintah, untuk bersama-sama memahami tantangan-tantangan baru ini dan menemukan jawabannya bersama-sama.yn5

“Tujuan utamanya adalah memastikan agar semua dipenuhi dan dilindungi haknya sebagai warga (citizens), bukan sekedar pengguna (users), apalagi sekedar pasar (market) teknologi,” urainya.

IACSP Regional Asia Tenggara didirikan pada tahun 2006 untuk memenuhi tantangan keamanan setelah era globalisasi abad ke-21 karena mereka percaya bahwa masyarakat pada umumnya harus dibuat sadar akan potensi ancaman terorisme dan mendorong bahwa masyarakat yang memiliki informasi yang lebih baik akan menghasilkan demokratisasi sistem pemerintahan.

Dengan berbagi pengetahuan dari para pemimpin pemikiran terkemuka di industri dari seluruh dunia, konferensi menjawab pertanyaan yang sangat mendasar yang ingin diketahui oleh manajemen puncak setiap organisasi – Dapatkah serangan siber benar-benar menyebabkan kekacauan pada organisasi mereka atau bahkan membuat tidak stabil suatu negara?  Bagaimana pemerintah, bisnis dan masyarakat sipil dapat berkolaborasi dalam menangani ancaman ruang maya bersama-sama?yn6

Delegasi dari seluruh dunia berkumpul bersama di ruang yang sama untuk belajar, memahami, dan berbagi. Di antara topik yang dibagikan, beberapa topik utama yang dibahas termasuk ‘Risiko Keterpaparan Cyber terhadap The Dark Web’ oleh Chief Operations Officer, Cyber Intelligence House, Singapura, Pasi Koistinen serta ‘Bagaimana Internet Membuat Ancaman terhadap Keamanan Nasional?”  oleh CEO Cybersecurity Malaysia Dato ‘Ts.  Haji Amirudin Bin Abdul Wahab’.

Sejalan dengan ini, Wakil Perdana Menteri Malaysia, mengumumkan bahwa Pemerintah Malaysia akan meluncurkan Strategi Keamanan Siber Nasional pada Juli 2019, memetakan tindakan proaktif untuk melindungi ekosistem digital Malaysia.  Strategi ini melibatkan implementasi dari 37 rencana yang dapat ditindaklanjuti untuk memperkuat status nasional keamanan siber dan mekanisme pertahanan.

Sementara pemerintah menekankan pada pendeteksian dan pencegahan ancaman dunia maya, Malaysia berencana untuk lebih meningkatkan keadaan ketahanan dunia maya khususnya dalam melindungi infrastruktur informasi nasional utama yang kritis.  Ini termasuk meletakkan fondasi yang diperlukan untuk mempersiapkan, merespons, dan pemulihan dari serangan siber yang brutal.  Seperti yang diketahui bersama, ketika menyangkut keamanan dunia maya, ini bukan masalah “kalau” tetapi “kapan” itu terjadi.yn2

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *