Hantu Literasi Indonesia, Pembawa Buku D.N Aidit Kembali Ditangkap

  • Whatsapp
Dua Mahasiswa Probolinggo yang diamankan polisi beserta bukunya (ist)

Seyogyanya sejak putusan Mahkamah Konstitusi (MK) tahun 2010 yang mencabut Undang-Undang Nomor 4/PNPS/1963 tentang Pengamanan terhadap Barang-Barang Cetakan yang Isinya Dapat Menggangu Ketertiban Umum, razia atau penyitaan buku harus melalui proses hukum tak lagi bisa sepihak.

Pada praktiknya razia dan penyitaan buku masih terus terjadi, terakhir dua mahasiswa yang tergabung dalam komunitas vespa penggiat literasi di Probolinggo, Jawa Timur diamankan pihak kepolisian setelah kedapatan membawa buku Dipa Nusantara Aidit.

Berita Lainnya

Berdasarkan keterang dari pihak kepolisian sedikitnya terdapat empat buku yang dipersoalkan, yakni: Aidit “Dua Wajah Dipa Nusantara”, Menempuh Djalan Rakjat D.N Aidit, Sukarno Marxisme dan Leninisme, dan D.N Aidit Sebuah Biografi Ringkas.

Razia dan penyitaan ini bukan kali pertama sejak keluarnya putusan MK 2010, tercatat sejak Januari 2019 setidaknya sudah beberapa kali pihak TNI dan Polri merazia buku-buku berhaluan kiri mulai dari Kediri, Tegal, Padang, dan banyak kota lainnya. Buku-buku terlarang di orde baru menjadi hantu bagi pengembangan literasi di Indonesia pasca reformasi.

Dalam wawancara dengan Najwa Shihab pada Januari 2019, Kapuspen TNI Brigjen Sisriardi mengakui adanya kesalahan karena sampai tingkat bawah para prajurit tidak mengetahui aturan hukum tentang razia buku. “Kalau boleh dikatakan keselahan, ya kesalahan, kalau keteledoran, ya keteledoran, karena aturan perbukuan belum well inform sampai tingkat bawah di TNI,” kutipan wawacara di Acara Mata Najwa (17/1/2019).

Penyitaan buku tanpa proses peradilan disebut sebagai proses eksekusi ekstra judisial yang bertentangan dengan negara hukum. Hal tersebut ditegaskan oleh Hakim Konstitusi yang mengeluarkan putusan tersebut pada tahun 2010. “Tanpa melalui proses peradilan, merupakan proses eksekusi ekstra judisial yang tentu saja sangat ditentang di sebuah negara hukum,” kata Maria Farida (13/10/2010)

Berita terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *