Hari Kebangkitan Nasional dan Spirit Kebangkitan Santri Milenial Membongkar Kebohongan Parasit Bangsa

Oleh: Hasanudin Hamami, Ketua Umum Jaros (Jaringan Organ Santri) 24

 

Bacaan Lainnya

INDOPOLITIKA.COM – Dinamika kehidupan politik Indonesia pasca reformasi menunjukkan gejala yang menggembirakan. Memberi ruang kebebasan rakyat berekspresi termasuk untuk mengkritik pemerintah. Fenomena ini menjadi antitesa atas perilaku politik orde baru pimpinan Soeharto yang hegemonik otoriter.

Setiap pelaku aksi yang berbeda dengan kebijakan pemerintah Soeharto maka harus menanggung konsekwensi; dibungkam, dipenjarakan atau dihilangkan dalam peta politik lokal maupun nasional.

Namun seiring dengan perkembangan budaya politik yang masih kental dengan nuansa budaya parokial dan kaula, ekspresi partisipasi politik mayoritas masyarakat Indonesia masih lebih cendrung menjadi obyek.

Sikap dan politiknya lebih sering ditentukan oleh tipuan politisi busuk. Karena belum mampu mencerna secara kritis apakah keputusan politiknya mencerminkan demokrasi bertanggungjawab atau hanya sebatas ekspresi kebebasan tanpa pertanggungjawaban terhadap kebaikan dan keutuhan bangsa dan negara.

Sejalan dengan pemikiran Aristoteles dan Imam Al Ghazali, semestinya demokrasi dipahami sebagai instrumen politik partisipatif masyarakat berbasis moral yang baik yang berorientasi mendorong pemerintah dan negara untuk bekerja sunggung-sungguh menciptakan kebaikan dan

kesejahteraan. Sayangnya di Indonesia kerap kali ditemukan ekspresi politik masyarakat yang hanya menuntut kebebasan tanpa peduli dengan tanggungjawab kebangsaan yang seharusnya menjadi standar pilar yang harus dijaga. Dan yang lebih mengecewakan lagi adalah adanya sekelompok elit politik dan tokoh yang memanfaatkan keluguan masyarakat.

Mereka dengan Seenakknya bebas membangun narasi-narasi seakan sebagai ekspresi kebebasan demokrasi padahal sejatinya menjadi parasit (benalu) yang membahayakan bagi keutuhan bangsa dan negara.

Maka spirit Kebangkitan Nasional harus menjadi sumber inspirasi bagi kebangkitan umat dan bangsa untuk kembali merivitalisasi kesadaran dan semangat untuk melawan setiap pikiran dan aksi yang merusak tenun kebangsaan.

Dimana secara historis, menurut Ki Hajar Dewantara, spirit kebangunan/ kebangkitan nasional 20 Mei 1908, diinisiasi dan didesain oleh Soekarno untuk menjadi pendorong kebersamaan dan persatuan dalam menghadapai bahaya eksternal yakni penjajahan Belanda dan bahaya internal yakni realitas perpecahan antar komponen bangsa akibat perjanjian Renville 17 Januari 1948, yang membuat wilayah teritori Indonesia mengecil yang hanya meliputi Banten, Jawa Tengah, Yogyakarta dan sebagian besar Sumatra. Beberapa wilayah yang lain hilang.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.