Hari Kebangkitan Nasional dan Spirit Kebangkitan Santri Milenial Membongkar Kebohongan Parasit Bangsa

Terbukti secara historis perpecahan hampir saja terjadi di Indonesia. Ketika kalangan Indonesia Timur ingin memisahkan diri dari NKRI jika 7 kata dalam sila pertama Pancasila di Piagam Jakarta, tidak dihilangkan karena tidak mencerminkan akomodasi terhadap ideologi kalangan non muslim.

Pembelaan politisi parasit atas tokoh dan kelompok intoleran-radikal.

Dengan berbungkus jubah demokrasi, tokoh parasit tertentu membela anasir dan kelompok yang berwatak intoleran-radikal padahal yang secara empirik telah menjadi motor gerakan politisasi agama dan politik SARA yang Barbar pada perhelatan pilkada Gubernur DKI 2017.

Mereka membungkus perilaku culasnya dengan alasan demokrasi. Melakukan pembelaan dan pelemahan terhadap penegakkan hukum atas pelaku intoleran dan radikal.

Termasuk siasat untuk mendowngrade eksistensi Densus 88 sebagi pilar terpenting perlindungan bangsa dan negara dari kejahatan terorisme. Maka sikap politik tokoh parasit yang menyerukan pembubaran Densus 88, perlu dipertanyakan komitmen kebangsaannya.

Sejatinya tingkah politik tokoh parasit itu potensial membahayakan keselamatan nasib bangsa dan negara dari kekejaman dan kejahatan aksi terorsime. Apakah kita patut percaya dengan komitemn kebangsaan tokoh tersebut? Perilaku mereka dapat ditafsirkan hanya sebagai ekspresi petualngan poltik yang memanfaatkan sistem demokrasi demi kepentingan politik diri dan kelompoknya belaka. Berusaha menyembunyikan watak kejahatan politik di mata publik, bak musang berbulu domba.

Secara subtantif, tak terlihat dari track record aksi poltiknya yang menunjukkan mereka membela kepentingan bangsa dan negara. Kaum santri milenial harus bertindak cerdas dan taktis untuk melumpuhkan kekuatan tokoh parasit bangsa ini.

Aksi politisi yang tak memiliki gagasan besar dan prestasi yang hanya bisa memainkan sentiment agama.

Banyak politisi memasuki pertarungan politik memanfaatkan narasi dan politisasi agama yang berbahaya. Padahal menurut Ibnu Khaldun, politisasi agama akan mengakibatkan kecintaan dan kebencian kelompok tertentu kepada kelompok lain akan bersifat permanen. Sulit disembuhkan. Indikasinya terihat dari polarisasi yang tak kunjung sembuh meski Prabowo dan Jokowi telah bersatu dalam satu perahu pemerintahan.

Maka tokoh politik yang memainkan politsasi agama sejatinya telah menjerumuskan bangsa dan negara pada perpecahan dan kehancuran. Ketika politisi tertentu mempolitisasi agama maka itu alarm akan terjadinya bahaya perpecahan.

Juga ketika saat ini ada tokoh yang membela eksistensi HTI dan FPI, sebenarnya sedang menunjukkan realitas alam bawah sadar politisi tersebut yag sesungguhnya menginginkan perpecahan dan kehancuran bangsa dan negara. Juga keculasan politisi parasit itu terjadi ketika melakukan pembelaan di luar mekanisme hukum terhadap tokoh tertentu yang secara konstitusi dinyatakan melanggar hukum dengan menggerakkan massa untuk menekan proses pengadilan dan pemeritah. Tokoh dan politisi parasit membangun narasi bahwa proses pengadilan telah melakukan kriminalisasi terhadap ulama/umat Islam.


Berita Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.