Hari Kebangkitan Nasional dan Spirit Kebangkitan Santri Milenial Membongkar Kebohongan Parasit Bangsa

Narasi semacam ini merupakan wujud dari aksi sakaralisasi tindakan kejahatan. Memframing sang terpidana ulama/umat Islam sebagai sosok yang benar mutlak sedang pemerintah dan pengadilan dianggap yang bersalah.

Ini tindakan yang sudah melanggar ajaran mendasar yakni teologi islam sekaligus merusak tanan hukum yang seharusnya dijaga sebagai instrumen untuk mencari keadilan dan kesetaraan. Ini adalah wujud politisiasi agama yang membahayakan sendri-sendi hukum berbangsa dan benegara.

Kelompok dan tokoh parasit membuat garis demarkasi yang tegas bedasarkan standar konsep emosional bukan standar obyektif, siapa yang membela agama dan siapa yang menista agama.

Tipuan tokoh politisasi agama digunakan sebagai standar acuan. Sialnya, dengan naif dan konyol, sekelompok umat islam mau-maunya ditipu oleh tokoh yang memanipulasi citra dirinya sebagai tokoh Islam sebagai tokoh yang sedang membela Islam padahal tidak demikian. Hal itu terlihat dari tarck record tokoh tersebut yang secara sadar telah memperkosa dan melanggar nilai-nilai Islam dengan memanfaatkan politik barbar dan SARA untuk kepentingan dirinya meraih kursi kepala daerah.

Kenaifan pendukungnya akhirnya telah mengakibatkan dosa ganda; dosa politik dan dosa teologis. Dosa politik membuat aksi politik pecah belah. Dosa teologisnya menuduh pihak yang menolak tokoh idolanya sebagai antsi Islam dan kafir. Maka tokoh dan para pendukungnya menunjukkan katagori parasit umat dan bangsa secara sempurna.

Kelompok ini yang harus dikendalikan dan dilawan oleh kekuaatan santri milenial. Mereka telah merias diri seakan sedang membela Islam padahal yang terjadi sebaliknya; telah merusak ajaran dan nilai-nilai Islam sejati. Maka kalangan santri milenial harus bangkit secara nasional untuk menjaga dan melindungi nilai-nilai Islam sekaligus menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Wassalam…!!!


Berita Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.