Nasional

Hari Pertelevisian Nasional, Ferry Batara Harap Televisi di Indonesia Sajikan Program Acara Berkualitas

Televisi adalah salah satu media informasi yang sangat penting di era modern. Lewat televisi, masyarakat mendapatkan informasi soal kejadian di dalam maupun luar negeri. Selain itu, melalui media televisi, masyarakat bisa menikmati hiburan dan sebagainya.

Menurut Ketua Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kota Depok, televisi bagaikan pisau bermata dua. Program televisi bisa berkontribusi positif jika memberikan informasi yang objektif dan menayangkan acara-acara yang berkualitas serta mendidik. Program televisi juga bisa berdampak negatif, apabila memberitakan sesuatu tidak objektif dan mempertontonkan acara tidak bermutu yang hanya bisa merusak generasi bangsa.

Untuk itu, tepat di Hari Pertelevisian Nasional (HPN), 24 Agustus 2018 ini, Bacaleg Dapil Jawa Barat (Jabar) VI ini menyampaikan beberapa hal yang perlu dibenahi dari media televisi di Indonesia.

Ferry mengkritik program televisi saat ini yang cenderung lebih mementingkan rating, lebih mengedepankan daya tarik penonton, dan tidak memikirkan acara itu berbobot atau tidak.

“Program televisi saat ini kebanyakan hanya mengejar rating, tidak memedulikan kualitas acaranya. Yang penting bisa mengundang daya tarik pengiklan dan menarik perhatian penonton. Sungguh memprihatinkan,” kata Ferri Batara saat dimintai tanggapannya tentang HPN, di kediamannya di kawasan Cinere, Kota Depok, Jumat (24/08/2018).

Ferry Batara juga menyinggung acara seperti pencarian bakat yang durasinya cukup panjang. Padahal isinya hanya kekonyolan para dewan juri, saling menghina dan semacamnya. Terkesan tidak sedang sungguh-sungguh mencari bakat para penyanyi di Indonesia.

“Ada itu acara yang katanya pencarian bakat, durasinya sangat panjang. Ini membuat saya geleng-geleng kepala, isinya hanya perdebatan antar juri, sama sekali tidak ada urgensinya dengan tujuan acaranya,” paparnya.

Kemudian menurut Ferry, tontonan sinetron di tanah air juga benar-benar memprihatinkan. Kebanyakan tentang percintaan, perkelahian dan balapan liar. Sudah tidak mendidik, jadwal tayangnya pun tidak pernah diperhatinkan.

Bagi Ferry, kalaupun stasiun televisi memaksakan untuk menayangkan sinetron seperti itu, harus memperhatikan jadwal tayangnya. Bukan di waktu-waktu yang biasanya anak-anak dibawah umur menonton. Secara psikologis, anak-anak masih dalam tahap labil dan cenderung suka meniru, maka sangat sensitif ketika mendapat pelajaran negatif dari tayangan tersebut.

“Sinetron-sinetron yang diproduksi lebih banyak tidak mendidik, terlebih untuk anak-anak dibawah umur,” jelas Ferry.

Ferry menambahkan, masih banyak hal yang harus dikoreksi dari tayangan televisi di Indonesia. Intinya, ia berharap ke depan, stasiun-stasiun televisi di Indonesia menyajikan program-program acara yang berkualitas, mendidik dan mampu menempatkan diri mana yang khusus anak-anak dan mana yang khusus dewasa.

Ferry juga berpesan agar para pemilik stasiun televisi di Indonesia, lebih banyak memproduksi acara-acara khusus untuk anak-anak yang mendidik, karena ini menyangkut masa depan mereka yang harus memiliki kehidupan sosial lebih baik.

“Saya berharap, para pemilik televisi mulai memperhatikan apakah program yang mereka buat berkontribusi positif atau tidak. Tidak hanya memikirkan kepentingan bisnisnya semata, tetapi juga perkembangan anak di masa depan,” tutup Ferry Batara. (ind)

Tags

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close