Hati-hati, Penipu Sertipikat Rumah Bergentayangan…

  • Whatsapp

INDOPOLITIKA- Polda Metro Jaya menangkap tujuh tersangka pelaku mafia tanah. Adapun modusnya adalah menduplikat sertipikat tanah kemudian digadaikan dengan keuntungan miliaran rupiah.

Kapolda Metro Jaya, Inspektur Jenderal Gatot Eddy Pramono menyebut kasus penipuan itu terjadi pada bulan Agustus dan Oktober tahun 2018. Tersangkanya SD, RK, K, A, HM, S, dan MGR berhasil menipu dua korban yang hendak menjual tanah dan rumah di Jakarta.

Baca Juga:

“Modusnya ketika ada orang menawarkan tanah dia datang dan nego dan (korban) berikan soft copy (surat tanah). Pelaku ini sudah siapkan surat tanah yang palsu untuk ditukar,” kata Gatot di Polda Metro Jaya.

Sindikat ini mencari korban yang hendak menjual tanah maupun rumah lalu mereka menukar sertipikat tanah dan menggadaikannya ke bank untuk mendapatkan keuntungan.

“Ini terjadi di lokasi pertama di rumah korban di Jalan Iskandarsyah Raya, Jakarta Selatan seharga Rp 64,5 miliar dan lokasi kedua tanah di Komplek Liga Mas di Pancoran Jakarta Selatan seharga Rp 24 miliar,” ungkap Gatot.

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Komisaris Besar Suyudi Ario Seto mengatakan, kasus ini merugikan para korbannya hingga Rp 88,5 miliar.

“Ini sindikat yang sama dengan kasus mafia tanah yang kita rilis di Kompleks Perkantoran Wisma Iskandarsyah, Jakarta Selatan beberapa waktu lalu,” kata Suyudi.

Tujuh tersangka menjalankan aksi dengan peran berbeda-beda. Ada yang menjadi pembuat sertipikat palsu, sebagai calo pembuat sertipikat palsu, sebagai pejabat pembuat akta tanah (PPAT) dan sebagai penjamin sertipikat hak milik (SHM) milik korban.

“Pimpinannya pelaku berinisial SD dia yang menjaminkan SHM milik korban. Dia ini residivis telah divonis sembilan tahun penjara,” ujar Suyudi.

Suyudi mengungkapkan, modus operandi para tersangka yakni dengan menawar rumah yang hendak dijual oleh pemilik kemudian membujuk pemilik untuk memberikan SHM dengan tujuan melakukan pengecekan ke Badan Pertanahan Nasional (BPN).

“Setelah berhasil membawa sertipikat asli pemilik, dibawa ke notaris palsu untuk dipalsukan. Sertipikat asli pemilik diagunkan, sementara sertipikat palsu dikembalikan ke pemilik,” terang Suyudi.

Para tersangka dikenakan Pasal 263 KUHP dan atau Pasal 266 KUHP Jo Pasal 55 dan Pasal 56 KUHP. Ancamannya paling lama tujuh tahun penjara.[sgh]

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *