Heboh Bayi Diimunisasi dengan Obat Kedaluwarsa di Posyandu Kota Tangerang, Ini Penjelasan Dinkes

Kediaman bayi yang diberi obat kedaluwarsa di Kota Tangerang/ist

INDOPOLITIKA.COM – Pengakuan seorang ibu bernama Widia Kurnia Rahayu yang mengaku anaknya yang berusia 2,5 bulan muntah-muntah setelah meminum obat kedaluwarsa bikin heboh.

Warga Kota Tangerang itu mengatakan, anaknya diimunisasi pada Selasa, (09/08/2022) di Posyandu Kenanga. Dalam kemasan obat itu tertera tanggal produksi yakni April 2018 dan kedaluwarsa pada April 2020.

Artinya obat itu telah kadaluwarsa lebih dari dua tahun. Dia pun mengatakan tak habis pikir dengan temuan itu.

“Enggak kepikiran saya kan. Saya lalai juga, cuma kan pikir saya orang medis harusnya lebih teliti lagi. Itu kan obat bukan sekadar makanan,” ujarnya saat diwawancarai di kediamannya di RT 02 RW 05, kemarin.

Apalagi, obat itu telah dikonsumsi oleh anaknya yang baru berusia 2,5 bulan. Dirinya pun resah, sebab sang anak sempat mengalami muntah – muntah.

“Udah dua kali diminum, siang dan sore (Selasa/9/10/2022). Pas tahu obatnya kedaluwarsa itu, ini ngefek ke dia, terus pas malem taunya dia muntah,” kata Widia.

Menanggapi kondisi pemberian obat kadaluarsa yang terjadi di Posyandu Bunga Kenanga, Kecamatan Karang Tengah. Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) tidak mengelak atas kejadian tersebut akibat kelalaian petugas puskesmas.

Kepala Dinkes, dr Dini Anggareni menjelaskan kronologis kejadian pada Senin (8/8) bahwa petugas puskesmas menemukan tiga obat PCT drop kadaluarsa di dalam tas Posyandu, kemudian langsung dipisahkan dan berencana diserahkan ke petugas Farmasi Puskesmas. Namun, saat sampai Puskesmas petugas tersebut lupa menyerahkan kepada petugas Farmasi Puskesmas.

Lanjutnya, pada Selasa (9/8/2022), saat pelaksanaan BIAN di Kenanga Pondok Pucung, obat tersebut terbawa sehingga diberikan kepada pasien karena berasal dari tas yang sama tanpa memeriksa kembali ED (expired date) obat yang diberikan .

Kemudian diperoleh laporan dari kader atas kondisi salah satu bayi yang telah meminum obat dan petugas langsung bergerak melakukan penarikan obat tersebut.

“Kami sangat menyayangkan kejadian ini, dan memohon maaf sebesar-besarnya kepada para keluarga atas kelalaian pengelolaan obat yang terjadi diluar gedung Puskesmas,” tuturnya.

“Diketahui, Posyandu sudah tidak aktif 2 tahun karena pandemi. Obat yang lama ini belum sempat dilaporkan atau dikembalikan ke petugas farmasi di puskesmas. Sekali lagi, Kami meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada keluarga pasien,” papar dr Dini, saat ditemui di ruang kerjanya.

Ia pun menjelaskan, pada Rabu (10/8) seluruh petugas baik petugas Posyandu, Puskesmas, Ketua Mutu, UKP, UKM hingga Dinkes langsung melalukan pembahasan untuk menelusuri lebih jauh kejadian tersebut dan segera menindaklanjuti serta melakukan perbaikan atas kondisi kelalaian yang terjadi.

“Petugas sudah langsung melakukan kunjungan ke rumah pasien, serta meninjau dan memeriksa langsung kondisi Arkaa pasca minum obat tersebut. Petugas juga langsung memberikan obat pengganti dan pendukung pemulihan Arkaa. Sambil dilakukan peninjauan lanjutan,” jelas dr Dini.

Lanjutnya, Dinkes juga sudah melayangkan teguran ke petugas Puskemas yang bersangkutan, serta melayangkan surat teguran kepada Kepala Puskesmas untuk lebih teliti atas pengelolaan obat baik di dalam maupun di luar Puskesmas.

“Puskesmas diperintahkan untuk ikut memperhatikan ketepatan pemberian obat dan pelayanan kesehatan di luar gedung Puskesmas,” tegasnya.

Ia pun berharap, tidak ada lagi kejadian serupa. Dinkes melalui Bidang Pelayanan Kesehatan akan terus memantau pelayanan kesehatan masyarakat, khususnya pada ketersediaan dan ketepatan pemberian obat-obatan.

“Ini menjadi evaluasi besar pastinya, akan kian diperketat agar hal-hal seperti ini tidak terjadi lagi. Pastinya, kelalaian ini jangan sampai kembali terjadi,” tutupnya. [Red]

Bagikan:

Ikuti berita menarik Indopolitika.com di Google News


Berita Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.