Heboh Video ‘Penceramah’ Sebut Rezim Saat Ini Komunis, Kepala BPIP Dikatai “Rusak”

  • Whatsapp
Tangkapan layar video penceramah, terkait negara komunis, polisisasi menuju negara komunis. Sumber Video: twitter@yusuf_dumdum

INDOPOLITIKA.COM – Pernyataan ‘kontroversi” Kepala Badan Pembina Ideologi Pancasila (BPIP) Yudian Wahyudi masih menjadi polemik. Baru-baru ini, video seorang pemuka agama yang secara terang-terangan mengatakan Yudian ‘rusak’ beredar di media sosial.

Bahkan dalam isi ceramahnya, pemuka agama tersebut menilai rezim saat ini komunis. Dia mengatakan itu ‘secara sadar’ di depan orang-orang yang mendengarkan ceramahnya. Klaim itu disampaikan lewat video yang dibagikan oleh pengguna Twitter @yusuf_dumdum, dikutip indopolitika.com, Minggu, (16/2/2020).

Bacaan Lainnya

Dari video yang dibagikan akun tersebut, nampak seorang lelaki berkacamata duduk di atas bangku di dalam sebuah ruangan. Dia mengenakan kopiah hitam, mengalungkan sorban putih di lehernya. Dalam paparannya, dia menyoroti roda pemerintahan dimasa sebelumnya dan saat ini. Ia menyebut, kondisi gerakan PKI sudah terlalu parah.

“Sudah 13 angkatan dari gerakan partai-partai yang ada untuk berlatih ke Beijing sejak tahun 2004 – 2014. “Sebenarnya mereka sudah melakukan lansiran sejak 2015. Tahun 2015 belum sanggup memecah kekuasaan mereka, 2019 mereka merasa menang kembali dan rezim hari ini adalah rezim komunis, imbuhnya, seraya mengatakan, “Saya mengatakannya dengan sadar”.

Lanjutnya, dia merasa aneh dengan negeri ini jalannya pemerintahan saat ini, karena tidak ada yang menyoal. Alasanya, setiap yang menyoal, akan dituduh anti pancasila.

Dia lantas menyoroti terpilihnya Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Yudian Wahyudi. Menurut si penceramah, terpilihnya Yudian cukup hebat. Ia dinilai tidak layak, mengingat disertasinya ngawur melegalkan perzinahan saat pacaran.

“Sekarang, Kepala BPIP adalah orang yang pernah memperbolehkan zina dengan anak sendiri. Yang Dr Wahyudi itu. Sekarang kan jadi Kepala BPIP. Hebat kan. Orang yang rusak, yang disertasinya ngawur itu, sekarang jadi Kepala BPIP. Ini sedang terjadi, tidak ada yang dikarang-karang oleh Ustadz Alfian Tanjung,” tegasnya.

Terpilihnya Yudian Wahyudi menurutnya bagian dari proses dibangunya negeri yang berpaham komunis, termasuk polisisasi. Dia lantas melontarkan pertanyaan terkait di posisi mana saja polisi menjabat. Siapa yang memimpin PSSI, BNN, BNPT, siapa yang mempimpin produksi persenjataan kita di Bandung, siapa yang memimpin Bea Cukai, siapa yang memimpin Menteri Dalam Negeri? “Ketika terjadi polisisasi, maka negara itu sedang menuju sebuah negara komunis,” sebutnya.

Begitu pula dengan fenomena jelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2020. Disebutkan mereka yang mencalonkan diri sebagai gubernur atau wali kota berasal dari kalangan polisi. Itulah yang disebut sebagai tindakan polisasi dalam rezim komunisme.

“Ada 80 persen calon daripada Pilkada, serentak per 23 September 2020 adalah polisi. Kalau polisi-polisi sudah jadi gubernur, wali kota, jadi apa, nanti 2021, 2022, 2023 tidak ada lagi Pilkada. Akan ditetapkannya Plt (pejabat sementara) yang menetapkan Menteri Dalam Negeri,” ungkapnya.

Sejak dibagikan, rekaman soal klaim pemerintah menganut paham komunis telah disaksikan lebih dari 30 ribu kali, diretweet 700 kali serta disukai 1,1 ribu.[asa]

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *