Pilgub Sumsel 2018

Herman Deru Nyatakan Sumsel Harus Maju, Tidak Hanya Retorika

PALEMBANG, — Pilkada Sumatera Selatan seharusnya bisa menjadi ajang pembelajaran penting bagi rakyat. Momentum pilkada bisa dilakukan untuk membedah informasi dan pemberitaan pembangunan. Rakyat bisa mencek sendiri kebenaran setiap propaganda penguasa daerah. Apakah benar capaian-capaian keberhasilan pembangunan yang selama ini muncul di media massa. Apakah ada yang ditutupi atau dimanipulasi, yang bagus diungkap yang buruk ditutupi. Lalu apakah sinkron antara data dan realita.

Pertanyaan-pertanyaan kritis tersebut penting dikemukakan mengingat era teknologi informasi sekarang ini sudah sedemikian maju, sebenarnya tak ada yang bisa disembunyikan jika rakyat mau mencari informasi yang sesungguhnya. Kini melalui ajang pilkada, karena tuntutan debat publik, bursa program dan pasar solusi maka rakyat dapat melihat langsung, mana program yang gagal sehingga dikiritik para calon dari kubu perubahan atau mana program yang diasumsikan berhasil sehingga ingin diteruskan oleh kubu status quo. Demikian kesimpulan yang dipetik dari acara “Bincang Santai Pilkada Sumsel: Kubu Status Quo vs Kubu Perubahan, Siapa Menang?” yang digelar Kaukus Perempuan Peduli Pilkada Di Palembang, (12/12).

Irma Hamidah Sekretaris Kaukus Perempuan menyatakan, publik selama ini seringkali disodori gambar dan propaganda keberhasilan pada sedikit bidang. Pemerintah provinsi mengklaim sukses dan mencapai kepeloporan dan kegemilangan bahkan seolah sebagai daerah terbaik di Indonesia. Faktanya ternyata tidak sepenuhnya demikian. Irma menjelaskan capaian IPM Sumsel selalu berada di bawah rata-rata IPM Nasional. Padahal dalam kampanye di pilkada yang sebelumnya Alex Noerdin selalu mengklaim IPM Sumsel dibawah kepemimpinannya selalu berada di atas IPM nasional. “Data mana bisa dibantah, mau pakai penjelasan apapun, faktanya begitu, ujarnya.

Irma juga menyebut contoh lain, yakni soal kemiskinan. Posisi Sumsel masuk dalam kategori provinsi yang miskin. Datanya terpampang dimana-mana tak akan bisa dimanipulasi. Bahkan klaim Sumsel sebagai daerah yang bagus buat investasi ternyata justru sebaliknya. Indeks Kemudahan Berbisnis (Ease of Doing Business Index) Sumsel ada di peringkat ke 29 dari 33 provinsi. Peringkat yang tinggi menunjukkan peraturan untuk berbisnis yang lebih baik. “Nah Sumsel rangking ke 29, itu buruk dong. Dimana letak gemilangnya?” pungkas Irma.

Dikonfirmasi tentang data-data faktual dan peringkat buruk yang diraih Sumsel, calon gubernur Herman Deru menyatakan semua itu adalah pekerjaan rumah bersama. Ia dan timnya sudah punya data lengkap mengenai hal itu. Diakuinya memang sangat menyedihkan melihat keadaan tersebut. Deru menyoroti soal ketimpangan yang lebar dan soal pembangunan yang tidak merata. Banyak jalan provinsi yang jelek, program sekolah gratis juga banyak dikeluhkan karena ternyata banyak yang tidak gratis. Semua itu menurutnya harus diperbaiki, harus dikoreksi, harus diperbaharui. “Saatnya bekerja, hentikan retorika. Zaman sudah berubah, data tak lagi bisa disembunyikan. Sumsel harus maju dalam segala bidang, ini tak bisa ditawar,” pungkasnya saat ditemui di kediamannya di Palembang, (12/12).

Tags

Artikel Terkait

Close
Close