Daerah

Hinca Pandjaitan: Jangan Sampai Ada Tambahan Bahasa Yang Dinyatakan Punah

Asahan – Badan pendidikan dunia yang bernaung di bawah PBB, yakni UNESCO, menetapkan tanggal 21 Februari sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional. Hari Kamis (21/2/2019) kemarin pun diperingati setiap orang di seluruh penjuru dunia sebagai hari bahasa ibu.

Di Indonesia, bahasa ibu sangat identik dengan bahasa daerah. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) mencatat hingga Oktober 2017, bahasa daerah kita mencapai angka yang cukup fantastis, yakni 652 bahasa. Namun yang patut menjadi catatan, ada 19 bahasa daerah terancam punah, 2 kritis, dan 11 dinyatakan sudah punah.

Hinca Pandjaitan, tokoh nasional yang juga putra asli Asahan, Sumatera Utara sangat menyayangkan fakta tersebut. Sekjen DPP Partai Demokrat ini menegaskan bahasa harus diselamatkan demi kelestarian budaya yang sudah beratus-ratus tahun hidup di negeri ini, termasuk Sumut di dalamnya.

“Negara mana yang punya 652 bahasa daerah? Kekayaan Republik ini harus kita jaga. Jangan sampai ada lagi tambahan bahasa yang dinyatakan punah, apalagi di Sumatera Utara,” tegas Hinca kepada wartawan, Jumat (22/2/2018).

Hinca pun mengajak seluruh masyarakat Sumut untuk bersama melestarikan setiap bahasa yang ada di seluruh Sumatera Utara. “Bahasa Batak, Mandailing, Angkola, Karo, Melayu, Dairi, Simalungun, semuanya harus kita lestarikan. Mari kita selamatkan aset berharga ini, jangan sampai hilang di telan zaman,” pungkas sosok yang kembali maju menjadi Caleg DPR RI dapil Sumut III tersebut.

UNESCO menetapkan tanggal 21 Februari sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional. Organisasi internasional ini mengukuhkannya pada 17 November 1999, dan diperingati setiap tahunnya sejak tahun 2000.

Tags

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close