HUT ke-56, Partai Golkar Selenggarakan Lomba Baca Puisi Khusus Jurnalis  se-Indonesia

  • Whatsapp

INDOPOLITIKA.COM – Pangeran Negara, Putu Fajar Arcana, dan Baiq Mutia ditetapkan sebagai juara pertama, kedua dan ketiga dalam ajang Lomba Baca Puisi Khusus untuk Jurnalis  se – Indonesia dalam rangka HUT Partai Golkar ke-56.

Sedangkan pemenang harapan satu, dua dan tiga adalah Dheni Kurnia, Ramon Damora dan Sabrina Fadilah Az-Zahra.

Berita Lainnya

Keenam pemenang tersebut terpilih menjadi yang terbaik, setelah secara estetika bertarung dengan 30 peserta lainnya, dari seluruh Indonesia.

Yang masing-masing peserta mengirimkan dua rekaman sajak yang dibawakan. Yaitu sajak wajib milik penyair Chairil Anwar, WS. Rendra, Sutardji Calzoum Bachri, Taufik Ismail dan Sapardi Djoko Damono. Dan Puisi bebas milik siapapun, juga karya sendiri.

Ajang yang berpuncak Auditorium Abdul Muis, Gedung DPR, RI, Jakarta, sebagaimana dijelaskan anggota Dewan Juri yang terdiri dari Sutardji Calzoum Bachri, Lola Amaria, Wina Armada Sukardi.

Lomba yang telah digulirkan sejak beberapa Minggu lalu itu, paling banyak diikuti sejumlah penyair cum wartawan dari Sumatera. Teristimewa dari Sumatera Barat, Jambi, Lampung, Palembang, dan Riau. Sisanya dari Sulawesi Tenggara hingga Makassar. Sisanya dari Jatim, Jateng dan DKI Jakarta.

Lola Amaria dalam catatan Anggota Dewan Juri mejelaskan, ada kecenderungan dan sayangnya, diam-diam menjadi kesadaran publik, dewasa ini membaca sajak biasanya dilakukan dengan dramatisasi yang berlebihan.

Akibatnya, pembacaan sajak justru menjadi artifisial, berlebihan (lebai) dan menjadi tidak wajar. Karena banyak yang membaca sajak dengan cara marah-marah.

“Hal ini menjadi makin memprihatinkan, karena pembaca sajak justru seperti kehilangan orientasi atas sajak yang dibawakannya,” kata Lola Amaria.

Wakil Ketua Umum Korbid Komunikasi dan Informasi Partai Golkar Nurul Arifin, dalam sambutannya mengaku terkejut dengan animo masyarakat, teristimewa sejumlah penyair di ajang yang kali pertama bergulir ini.

“Surprise dengan animo masyarakat. Apalagi pesertanya adalah penyair yang juga wartawan. Intinya, Golkar ingin bersama media, kalau media maju, Indonesia kuat. Golkar ingin membuat negara ini establish,” kata Nurul Arifin yang hadir mewakili Ketuua Umum DPP Partai Golkar Airlangga Hartarto yang juga sempat membacakan sajak “Menatap Merah Putih”, Sapardi Djoko Damono via tapping.

Meutya Hafid, Ketua Komisi I DPR RI, yang sekaligus selalu penggagas ajang ini berharap, gelaran luar biasa ini, akan menyempurna di tahun berikutnya.

“Yang masuk (puisinya) bagus-bagus. Jadi memang tidak mudah menilainya. Apapun itu, dunia politik harus dekat dengan dunia seni, agar kita sama sama dapat berkarya dengan rasa,” kata Meutya Hafid.

Apa yang dikatakan Meutya Hafid dibenarkan oleh salah satu Dewan Juri, Sutardji Calzoum Bachri. Mengutip John F. Kennedy, Sutardji mengatakan; “Jika politik bengkok, puisi akan memperbaikinya,” katanya.

Sutardji menerangkan, puisi (sebenarnya) tidak berindah-indah dan bercantik-cantik dengan kata-kata.

“Kalau mau berindah indah dengan kata-kata, (pergi) ke iklan saja. Puisi adalah roh, harga hidup, nilai-nilai baru. Karena Puisi memberikan tambahan makna pada katakata. Ada pemberdayaan pada katakata. Perbedayaan terjadi karena imajinasi hanya bisa dilakukan dengan katakata. Tuhan mengawali semua dengan kata, kun…..,” pungkasnya sebelum membacakan sajaknya sendiri berjudul “Tanah Air Mata”, yang diawali dengan menembang “Summertime” milik George Gershwin, dengan stamina dan daya pukau yang masih luar biasa.

Di tempat yang sama, Ketua Dewan Juri, Wina Armada Sukardi mengatakan penilaian tidak parsial, tapi in toto (menyeluruh). Atau angka belakangan, karena angka menunjukkan relativitas belaka. Meski parameternya sama.

Turunannya, masih menurut Wina Armada Sukardi, tiap anggota Dewan Juri, hanya menggradasikan penilaiannya. Kemudian tinggal dicocokkan 10 nama dari masing-masing pilihan Anggota Dewan Juri. Dari 10 nama yang dikumpulkan, itu akhirnya ditemukan irisan pemenangnya. Yang sebelumnya kembali diuji nama-nama puncaknya. [rif]

Berita terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *