Ibadah Haji 2020 Terancam Gagal, Adakah Hubungannya dengan Tanda Kiamat?

  • Whatsapp
Menteri haji Arab Saudi meminta umat Islam di seluruh dunia untuk menunda sementara persiapan ibadah haji tahun ini. Foto/Bandar Al-Dandani/AFP

INDOPOLITIKA.COM – Penutupan Masjidil Haram oleh Pemerintah Saudi belakangan ini sebagai langkah antisipasi penyebaran virus Corona (Covid-19) menyebabkan area sekitaran Ka‘bah menjadi kosong dan tak ada yang thawaf.

Mengutip nu.or.id, jika wabah akibat virus ini tak kunjung bisa ditanggulangi, kemungkinan besar Pemerintah Saudi akan memperpanjang masa penutupan Masjidil Haram hingga musim haji. Walhasil, tidak ada ibadah haji tahun ini. Sayangnya, kondisi ini dihubung-hubungkan oleh sementara pihak dengan tanda-tanda Kiamat, salah satunya yang disebutkan dalam hadits:

Berita Lainnya

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى لاَ يُحَجَّ البَيْتُ

Artinya, “Tidak akan terjadi Kiamat sampai Baitullah tak jadi tempat berhaji.”

Tak tanggung-tanggung hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Shahih-nya, kitab hadits yang paling otoritatif di tengah kaum Muslimin. Secara harfiah, hadits ini memang menunjukkan satu peristiwa yang akan terjadi sebelum Kiamat.

Namun, tidak serta merta ketiadaan orang berhaji di Baitullah mengantarkan peristiwa Kiamat. Selain itu, peristiwa penutupan Ka‘bah juga terjadi bukan kali ini saja. Dan perlu diingat bahwa sebelum menyampaikan hadits ini, al-Bukhari menyampaikan hadits lain yang secara harfiah maknanya bertolak belakang, yaitu:

لَيُحَجَّنَّ البَيْتُ وَلَيُعْتَمَرَنَّ بَعْدَ خُرُوجِ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ

Artinya, “Baitullah benar-benar akan jadi tempat berhaji dan berumrah setelah keluarnya Ya’juj-Ma’juj.”

Menurut Mushthafa al-Bagha, Ya’juj-Ma’juj sendiri adalah suku bangsa yang banyak sekali warganya, aneh tingkah akhlaknya, masif keburukannya, dan kemunculannya jadi salah satu tanda Kiamat kubra.

Syekh Abu Muhammad Mahmud dalam ‘Umdatul Qari Syarh Shahih al-Bukhari menjelaskan, hadits kedua menunjukkan adanya ibadah haji setelah keluarnya tanda-tanda Kiamat. Sementara hadits yang pertama menunjukkan tak ada lagi yang berhaji menjelang Kiamat.

Meski demikian, pemahaman kedua hadits ini bisa digabungkan, seperti dimaknai: Dengan berhajinya orang-orang setelah keluar Ya‘juj-Ma’juj, tidak mesti ibadah haji menjelang Kiamat menjadi terhalang. Terlebih disampaikan oleh al-Bukhari bahwa riwayat hadits tentang Ya’juj-Ma’juj ini lebih banyak.

Ini artinya, seperti ditandaskan oleh Syekh Abu Muhammad, “Al-baitu yuhajju ila yaumil qiyamah,” artinya, Baitullah itu jadi tempat ibadah haji hingga hari Kiamat.” (Lihat: Syekh Abu Muhammad Mahmud, ‘Umdatul Qari Shahih al-Bukhari, jilid 9, hal. 236).

Berita terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *